Ari's posts with tag: novel lari

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag novel lari

Aku tak bisa berhenti bercinta.

 

Rambut aku tata. Hisap-hisap aura wangi, aku tempelkan ke pelosok-pelosok pori. Utas-utas benang tersusun, aku kenakan secara sesuai. Pada padanan terbaik. Berkelas. Jauh meninggalkan keterbelakangan. Jauh meninggalkan ketidakteraturan. Lagi-lagi menyentuh kemapanan, meski lewat permukaan saja. Susah-susah merangkai titik-titik kehidupan, akhirnya dusta lagi yang termanjakan. Kebohongan. Juntai-juntai kehampaan. Lagi-lagi dijemput hasrat mengakali.

Aku alihkan pandang. Secara tanpa sengaja. Lenguh yang keluar. Lagi-lagi. Otak tersentak ke belakang, berat oleh kenangan yang tak pasti nasibnya. Dihilangkan atau disimpan terus. Dan terus. Dan terus. Sampai kian menggerogoti dan menjungkirkan aku pada kemelaratan akibat ulah sendiri.

Aku mengerti bahwa bingkai-bingkai foto di ruang ini kini kosong. Tak berpenghuni. Mendapati hari-hari menjemukan, tanpa warna. Maka dari itu, beberapa darinya sudah kusimpan tak teratur.

Pada laci lemari yang terkunci.

Aku sudah penjarakan. Aku belenggu mereka dalam terbatasnya gerak. Meski belum semuanya. Masih tersisa dua bingkai di dekat cermin. Keduanya kosong. Keduanya buta. Tak mampu menyampaikan pesan apa-apa. Pesan yang dulu kerap hadir lewat senyumanmu. Yang menjaga terus bingkai itu. Juga hari-hari itu.

Kini, aku pastikan lagi pesona senyuman.

Aku pampangkan lagi rasa kehangatan.

Aku yakinkan lagi bahwa aku sudah siap terjun ke medan pertempuran. Ketakutan yang sempat ada harus dihilangkan sekarang juga. Dibakar tak bersisa. Asap dan abu biar ditiup angin utara. Membahana dan tak untuk kembali.

Seorang wanita akan menunggu sebentar lagi. Di sebuah pintu tanpa daun jendela yang terbuka. Pada sebuah senja, beberapa saat sebelum gelap. Memburu pesan-pesan asmara. Membuktikan nafas-nafas keingintahuan. Sibak kemungkinan hadirnya harapan-harapan.

Apakah masih harus berambut panjang dan tak terlalu tinggi? Aku tidak tahu. Mereka selalu berbincang dalam gelap, dalam sunyi, bahkan dalam jarak yang jauh satu sama lain. Tidak boleh ada kebocoran karena rahasia ini sangat tidak boleh terbagi dengan yang lain. Malaikat saja harus berpikir dua kali jika ingin mengorek-ngoreknya dari Tuhan. Ini pun sama. Tak boleh ada kebocoran. Aku tidak tahu apakah bidadari yang dijatuhkan itu nanti seperti apa. Tak peduli. Biar saja mengalir lagi sungai-sungai pembawa dilema! Sungai-sungai penampung asmara. Penuh dengan kerinduan. Penuh dengan keinginan. Keinginan untuk memiliki dan dimiliki. Meski kadang malah  menjadi tuntutan.

Aku tidak bisa berhenti bercinta. Langit-langit itu harus kuwarnai. Kusertai angin, agar segar. Kububuhkan awan, agar tangis bisa melegakan. Kulintaskan juga gelap, agar mau mencari terang. Kujodohkan pula dengan tawa, agar senyuman selalu menggoreskan kuku-kukunya yang lembut. Seseorang itu harus dicari. Lewat sebuah doa yang panjang. Lewat langkah-langkah liar.

Pernah aku berdiskusi sebentar dengan mimpi. Pernah bertukar pikir dengan masa lalu. Pernah pula aku berkhayal bersama dengan apatisnya keinginan.  Jawabannya satu. Aku tidak boleh takut pada kekinian. Meski cuaca kekinian itu akan segera menghujamku. Merajam hingga bermandikan kengerian dan air mata. Aku tidak boleh takut pada kecupan yang asing. Aku bahkan harus berani menghadapi tuntutan dan seluruh kompromi yang baru.

Bersama seseorang itu.

Bersama seseorang yang sebentar lagi akan segera kucari.


 

Harap terlalukah pada senyum? Senyummu. Terlupa jika malam buas pernah mampir melewatiku tanpa kenangan. Hanya sakit. Terkubur ingat bahwa aku hanya mampu melabuhkan jiwa dahaga dan lelah itu di pundakmu untuk dua kejap mata. Bersinarlah terus mata terang gelapku, agar setidaknya masih ada yang beruntung dapat memelukmu padat! Agar kamu tetap hadir, menjelma sinar suci. Tentunya dalam sebuah penikmatan terdalam, atas penantian cinta yang indah ditatap dari balik bukit.

Aku tidak pernah belabuh sepi di pundakmu. Selalu saja ramai. Hampir pasti penuh dengan cinta. Aku juga tidak pernah menitipkan pesan perpisahan. Aku toh menemukan damai dibalik raut-raut hatimu. Untuk apa aku menelorkan kata-kata perpisahan? Terpikir pun tidak!

Kamu adalah impian. Lantas menjelma perwujudan keinginan.

Kamu melintas hulu. Lantas menyisir tepian.

Kamu rontakan urat-urat pemberontakan. Lantas kamu kelelahan dan terbujur lemas tak bertenaga.

Akulah korban. Aku sudah kau jadikan pelampiasan. Pelampiasan amarah. Pelampiasan ketakpuasanmu. Pelampiasan keinginanmu untuk melanjutkan usaha pemberontakanmu itu ke arah yang lain, karena arah awal yang kamu tuju sudah terbentur keras dan melahirkan kelelahan luar biasa.  Kini kau ingin melampiaskan semuanya dengan sebuah keputusan sepihak. Kau ingin sendiri dan merenggut sejuta kebebasan yang ditawarkan. Kau ingin ambil kesempatan yang sedang menggeliat manja di depanmu sekarang. Aku lantas hanya menjadi seonggok kotoran yang tidak berarti. Aku lantas menjadi layak ditinggalkan. Lorong-lorong semakin hitam, bahkan dalam gelap yang paling terang sekalipun. Kuda-kuda bernyanyi dan mendendangkan lautan. Aku merenung sendiri dan menjejerkan duka-duka itu secara beruntun dalam lemari besi mimpi-mimpi. Ingin kuciptakan kunci dan menahan duka-duka itu agar tak keluar dari laci-laci lemari itu. Tersimpan rapih saja. Biar waktu yang menyembuhkan semuanya. Teriakan detik-detik adalah obat pamungkas. Peruntuh jiwa-jiwa bimbang.

Tapi alangkah kejamnya angin utara. Sulit sekali berhembus akhir-akhir ini. Susah sekali kucicipi angin segar itu lagi. Aku yang butuh arah malah tertinggal sendirian. Terabai. Lagi-lagi tercuai. Sepi dan harus menanggung kesendirian itu. Memang itulah kenyataan, namun alangkah cepatnya semua menghantam, tanpa sekedar tahu bahwa segalanya selalu membutuhkan waktu. Waktu untukku melupakanmu. Membenamkanmu serendah mungkin dalam harapanku. Memasang tirai penghalang agar imajimu tak lagi mudah tertangkap pandangku. Bahkan sampai terlupa. Tak ingat lagi. Tak ingin lagi menjemput matamu yang indah.

Aku masih menginginkanmu. Sungguh! Dan ini benar-benar tak termaafkan.

Aku tahu bahwa kamu sangat mempesona. Aku selalu tahu bahwa matamu selalu dapat berkata kasih tanpa ucapan. Sentuhan-sentuhan kecil dapat membentuk selintas semangat. Apalagi senyummu. Matahari selalu berhenti sejenak di setiap senyummu. Hanya untuk mencicipi pancar damainya. Angin bertiup hati-hati dan tak menggerutu, tak ingin terlewat senyummu itu. Aku selalu lantas terbebas. Hati sejuta tenang. Selanjutnya, tinggal memelukmu atau mengecupmu pelan. Tanpa tergesa. Tanpa khawatir jika kamu akan berlalu tanpa pesan.

Ingin mengakui bahwa aku tak bisa melupakanmu. Kemudian urung karena aku harus melupakanmu. Aku harus meninggalkanmu menjadi sebatas kenangan saja. Aku harus mulai menuliskanmu dalam catatan album terbaikku. Dimana nanti, album itu hanya dibuka sesekali. Dimana nanti, album itu hanya akan menjadi pilihan terakhir dalam mengisi waktu. Album yang dibuat bukan untuk dilihat kembali. Catatan yang seharusnya gosong oleh api gelora kekinian, lantas menjelma abu dan terhembus membaur dengan udara bebas. Tak terlihat lagi. Dan tak mudah menyatukannya lagi sebagai sebuah keutuhan karena sudah terlanjur baur dan hilang entah kemana. Akan menjelma bagian-bagian kecil. Atom. Memusingkan mencari serpihan-serpihan yang terlanjur terlihat kecil, tak kasat mata lagi. Jadi aku harus segera membelah lautan lagi untuk mencari tinta abadi. Tersedia dalam gurita kesepian. 

Tetap saja tak termaafkan.

Aku mengutuk diri sendiri atas kesulitanku membalik foto-foto itu. Foto-foto dimana kamu bertengger rapih selayak bidadari. Aku menyadari artimu ketika air mata selalu saja mendesak keluar. Dalam tulisan-tulisanmu yang tercecer di meja kamarku. Pada melodi-melodi terlantun yang akrab kudengar ketika menjamahmu. Dalam foto-fotomu yang tak terhitung jumlahnya.

Jadi ingin bertemu denganmu.

Jadi ingin menanyakan sebuah cara melupakan. Persis dengan apa yang sudah berhasil kamu lakoni. Melupakanku.

Demikian mudah.

Mungkin tinggal remah yang bisa dibereskan dengan sekali goyang.

 

Kalau harus kutanya gusar, aku memilih untuk berpaling. Karena aku tak tahu bagaimana mengelak dari desakan perasaan. Kalau harus kucari jawaban pembuat pasti, aku terpaksa membungkam mulutku dan menghunjamkan gandum-gandum penjejal. Bukannya aku takut mendengar jawaban, namun karena aku memang sudah merasa tahu jawabannya.

Aku sulit mematikan cinta itu. Benci yang mendalam setelah kamu pergi tak berarti cinta padamu mati. Aku hanya bisa membenci dan memakimu, bukan mematikan cinta. Jadi boleh saja kamu pergi.

Haruskah kukejar? Berat-berat langkah beranjak ini apakah suatu godaan dan cobaan? Pernahkah langkah memutuskan untuk bermimpi bahwa langkahnya akan menjelma ringan, seringan kapas?

Sejenak mata hanya gusar menatap keping-keping tertinggal dari harapan. Sejenak itu sepi. Senyap. Kosong tak bersuara. Palingkan saja jiwa pada imaji-imaji pemuas nafsu sementara. Sekujurku mungkin lelah. Atau pasrah. Lantas kuhamparkan saja permadani itu untukmu, meski aku harus mengetuk pintu yang lain. 

Aku harus mengetuk pintu yang lain. Pintu sebuah istana yang tidak dihuni olehmu.

Ada yang harus dimulai. Petualangan pun dimulai. Selalu ada awal lagi untuk setiap hal. Akhir. Awal. Apalah bedanya! Kita patokkan saja sebuah kondisi, keluaran dari pemikiran. Kitalah rajanya, bukan nasib. Kitalah pembuat skenario dan kita ajukan pada Tuhan, untuk tanda persetujuan. Kita bukannya menunggu sebuah skenario dituliskan untuk kita. Aku tidak begitu, entah dengan kalian semua. Seberapa burukpun persetujuan yang diberikan Tuhan, setidaknya aku sudah berusaha menentukan apa-apa yang terbaik bagi dahaga jiwaku. Membuas. Korek-korek terus keinginan dan menggali terus kemungkinan pemenuhan kebutuhan itu. Aku seringkali terhenyak. Dengan hantaman martil kenyataan. Tapi aku garap terus senyum di hati, apalagi jiwa. Karena segalanya akan jauh lebih indah bagiku ketika hujan tak hanya berarti air yang turun ke bumi. Segalanya akan jauh lebih indah ketika terik matahari tidak hanya membakar kulit dan melahirkan kegerahan yang luar biasa. Tidak hanya cahaya. Segalanya bahkan akan jauh lebih indah ketika angin tidak hanya menghembuskan kesegaran saja. Bisa saja ada duri terlontar, tapi di situlah keindahan. Disitulah kehidupan. Disitulah pernah ada kamu. Pernah pula sebidang permadani keemasan menyambutmu berkali-kali. Bahkan di saat-saat terakhir itu, ketika permadani itu belum lagi tergulung rapih. Ketika kamu terpaksa melewati permadani yang tadinya hanya kugelar untuk menyambutmu. Sebuah akhir dan awal sebuah mula. Aku harus mematok sebuah kondisi.

Tensi terpatok pada satu kondisi. Miskin suasana dinamis. Masih mencari-cari. Meruntuhkan kestabilan. Bahkan setelah beberapa saat menjelang ketukan kepastian itu. 

Aku datang ke nuansa ini, sendirian. Dengan ingatan tersisa atas dirimu. Setelah petikan-petikan mimpi dan firasat, aku memutuskan untuk menaikkan layar dan mengepakkan sayap, mencari laskar kebahagiaan.

Para penyair sudah menyiapkan lagi puisi-puisi cintanya untuk kemudian aku pinjam. Puisi-puisi yang mampu kuberikan ke haribaan seseorang yang baru. Para penyair tak pernah kehabisan kata-kata. Seakan mengucur terus dari mata air gudang kata, dengan minim sekali kesia-siaan. Beruntunglah kawan-kawan penyair! Seperti aku.

Belum lagi beranjak, aku sudah memikirkan sebuah puisi. Pengertiannya. Pengejawantahannya dalam kata-kata, biarlah menjadi milik para penyair. Puisi itu adalah tentang sebuah jalanan kecil berbatuan. Jalan yang kosong dan lebih dijajah oleh batu-batu beragam rupa. Aku sempat tergelincir berkali-kali, akibat hujan yang turun dan mampu membasahi batu. Hingga licin sekali. Aku terkalahkan berkali-kali oleh terjalnya jalanan. Itulah kisi-kisi puisi pertamaku. Untuk seseorang yang baru. Itulah puisi yang sudah lebih dahulu kubayangkan akan segera disusun kata-katanya sebelum aku justru menemukan seseorang itu.

Terlalu takaburkah?

Aku tidak tahu.

Tangkap saja sebuah peluang keemasan dan aku lantas akan berlari menjemput harap. Aku sudah tahu pasti dimana aku menaruh permadani istimewa itu. Aku tidak akan berkelok keliru di saat yang tepat itu. Di sebuah waktu dimana permadani haruslah berbaring menyambutmu. Sang penuai wajah-wajah bahagia yang tak tertahankan.


 

Melantun kekecewaan di tengah ganasnya titik-titik penyuruhku.

Bisa saja kulontarkan malam meski pagi baru saja hendak keluarkan cahaya. Tapi urung. Tapi terdiam, pada akhirnya. Hanya patuhi jalanan alam yang terus menderaku.

Deru-deru nafas manusia menyengat telinga kanan kiriku. Aku juga menyemburkan nafas-nafas dari derap tubuhku. Mentari menonjol pelan-pelan. Guncangkan tubuh-tubuh malas. Balurkan panas menyengat pada pulasnya tidur dingin semalam.

Aku sudah menjeratkan diriku di tengah keramaian. Nafas-nafas yang memburu. Sebagian terpaksa harus menjual dirinya pada khalayak dengan berkarut kusut. Tak sempat lagi memperindah celah-celah rawan persepsi. Terkadang bau. Bulu hidung kontan mengkerut dan pura-pura tertidur. Sementara nafas masih harus dipacu.

Gerakan-gerakan itu adalah makna. Derap-derap itu adalah perubahan. Arahnya sesekali melenceng. Tujuannya juga sesekali bias dan rancu.

Nafas-nafas terus menantang kelelahan dan godaan dingin terhadap ranjang-ranjang penghangat semakin menyerbu.

Begitulah terus dan terus, dari singsingan mentari yang satu ke singsingan mentari berikutnya. Akan begitu terus sampai aku memutuskan untuk berhenti menyambung kolom-kolom menuju dirimu. Juga menuju Tuhan. Begitulah terus sampai satu diantara kami harus diistirahatkan dan diberikan pilihan, atau tepatnya putusan.

Aku sempat berhenti.

Aku pernah berhenti ketika kamu pergi. Pelantunan kekecewaan jadi pilihan utama. Tak terhindari. Maaf. Aku menyesal pada harmoni dalam tubuhku, dalam jiwaku. Harmoni itu tidak bisa menahan dirimu, jiwa malaikatmu, pesona bidadarimu. Harmoni itu tercuai. Terabai.

Harmoni itu kurang terasah. Ataukah harmoni itu adalah lantunan yang tak mampu di dengar telinga jiwamu, gendang nuranimu. Aku menyesal sekali bahwa ketakjubanku akan kehadiran dirimu itu terbentur keras pada gagal terciptanya harmoni antara nafasku dan nafasmu. Ketakjuban hati itu tertampar janggalnya jiwamu menyentuh jiwaku. Makanya, kamu pun mengangkat kakimu dan beringsut menjauh.

Padahal, asal kamu tahu, aku tidak pernah ingin berhenti berpacu.

Sebelum kamu pergi, aku dan nafas-nafasku terus menghampiri dirimu. Aku tidak mau berhenti. Pilar-pilarnya selalu ada dan kuat. Tak ada niat untuk dirobohkan dan rata menjadi puing. Diantara jutaan wajah dan kepingan jiwa, aku yakin Tuhan telah mencantumkan sebuah nama. Aku yakin Tuhan tiada ceroboh ketika menuliskan nama itu di samping namaku. Aku pernah berpikir bahwa Tuhan menuliskan namamu lengkap di situ. Aku harap. Aku bawa dalam mimpi-mimpi di malam kelam tersaput kabut sekalipun.

Kini aku tidak tahu lagi.

Kamu telah memesan langkah kemantapan menuju utopiamu. Kamu telah menitipkan surat-surat wasiat pada masa lalu. Kamu menitipkan kata-kata saja kepadaku. Aku sesalkan bahwa ternyata ada yang lebih berarti dariku, bagimu.

Sangat menyakitkan.

Begitu menusuk hati perawanku.

Aku telah berusaha merak hati. Menggubah alunan musik menjadi harmoni, di atas kepentingan alam keegoisanku. Menempatkan harmoni itu berdampingan dengan kekaguman akan eloknya wewangian surga yang muncul dari hembusan mata indahmu. Melakukannya saja sudah melahirkan kebahagiaan dalam batinku. Siapa yang lantas tak berharap bahwa suatu saat nanti aku dapat mereguk kebahagiaan terbesar dalam hidupku, yaitu bersamamu?

Tapi burung-burung berwarna hitam membawa kabar buruk bagiku.

Kekecewaan itu menjegal kebahagiaanku. Aku pun kemudian sempat mengecil dan tak sanggup berdiri lagi.

Semoga hanya tertunda. Dan biar kebahagiaan itu kudapatkan lagi, meski bukan dengan dirimu.


 

Aku lelaki pemandu mentari. Aku lelaki peneman rembulan. Aku lelaki setia pada angin. Aku lelaki sejuta umur dunia, pengoyak cerita-cerita kepahlawanan.

Bukan kepahlawanannya yang aku koyak, melainkan seluruh bualan-bualan tak berguna, pembuai rasa selangit yang justru akan menjatuhkan kita lebih keras lagi. Lebih sakit lagi.

Aku sudah memilih.

Sejak dulu, sebenarnya.

Aku memilih untuk bergelimang saja dalam dunia kenyataan. Dalam dunia ini, aku merasa lebih nyaman dalam menemukan pahlawan-pahwalanku sendiri. Tanpa skenario. Tanpa adegan-adegan yang tidak masuk akal. Tanpa bagian-bagian yang terpotong, atau dipotong. Tidak melewati saringan dan lolos begitu saja. Menyentuhku tanpa batas.

Biji-biji kenyataan adalah pahit. Mungkin layaknya biji kopi. Kau gigit, kau serap sensasi pahit di katup perasa. Andai biji-biji kenyataan itu bisa pula kutumbuk dan kujadikan serbuk. Andai bisa kuseduhkan air panas di sekujurnya dan menjadikan minuman panas yang nikmat luar biasa. Dengan aroma tereksotis, mengalahkan seluruh ketakjuban hati yang lain. Andai saja!

Biji-biji kenyataan adalah pahit.

Dan sayang sekali, ini bukanlah kopi. Bisa saja aku tumbuk dan kuseduh, tapi hasilnya tak pernah bisa diduga. Bisa menjadi kemakmuran hati atau malah kemelaratan diri. Aku tak tahu pasti. Geleng-geleng saja panutan pikir itu. Seakan tak percaya. Semoga bukan pasrah, melainkan hanya ketidakpercayaan.

Kunikmati.

Kujadikan cerita-cerita indah. Itulah kenyataan. Aku tidak akan berlari darinya. Kunikmati. Kujadikan saat-saat menakjubkan. Ada kamu di situ. Ada aku di dekatmu. Ada kamu yang menjauh dariku. Ada pula aku yang tetap tinggal di sebuah tempat rendah yang hanya mampu melihat kamu semakin mengecil menjauhiku.

Itulah kenyataan.

Kamu berlari dari nafasku. Nafas bau milikkukah yang jauhkan dirimu dariku?

Kamu menghapus jejak-jejak langkahku di setiap arah yang telah kutempuh bersamamu. Jejak-jejak itu mungkin meninggalkan kesan malu yang berlebihan pada dirimu. Mungkin.

Kamu berlari dari genggamku. Tanganku berkisar layak bumi. Untuk waktu yang lepas dan samar-samar porosnya. Terlalu erat menggenggammu atau kelewat bebas, aku tidak paham.

Aku harus menerima semuanya ini.

Aku menyebuk. Jutaan garis-garis kenyataan kusenggol kesana kemari. Kadang aku jejak. Kadang aku tabrak. Lebih sering aku senggol hingga merapuh tahanan tubuhnya dan jatuh berdebam. Senggol yang keras. Lebih keras dari tabrak. Lebih tangguh.

Aku harus melewati jalan yang penuh rambu kenyataan. Semak-semak belukar pasti keras menampar kulit mukaku yang rentan. Aku meringis. Berulang kali hingga mendidih kuali emosi. Semak meneruskan tamparannya. Aku hanya merunduk perih sambil mengintip sorotan mentari. Aku hanya menggeser terus langkah-langkah, harap Tuhan beri petunjuk penerang.

Tak indah ditinggal. Apalagi kalau harus meneteskan air mata.

Air mata hadirkan lega di hati, namun tak indah ditinggal. Serasa tercuai. Terabaikan. Remeh sekali sampai tak pantas didampingi.

Blog EntryNovel Lari : Ch. 6 - Aku pernah mencintaimuMar 14, '07 4:56 AM
for everyone

 

Aku pernah mencintaimu.

Aku sangat tidak percaya.

Yang tadinya kukira masih berada dalam ambang kewajaran, kini membuat aku berpikir keras bahwa ini tidak membuahkan hasil. Ini tidak pernah berhasil. Dan ini tidak akan berhasil. Tak mungkin aku dapat mencintai wanita cantik sepertimu. Kamu cantik selayak bidadari pujaan dewa. Pernah kutanya, ‘apa tak sakit ketika dijatuhkan langit untukku?’

Beruntunglah aku karena aku pernah jatuh cinta. Bahkan demikian mendalam pada akhirnya. Cinta telah menelanjangiku. Cinta membantuku menulis catatan keseharian yang ternyata jauh dari sempurna. Melanglangbuana. Liar sekali seluruh goresan tinta. Berayun-ayun menempelkan kecupannya pada bibir kertas yang sangat sensual. Ada kekuatan. Terpancar begitu jelas ketika mata itu menangkap cahaya, yang menyampaikan imaji di belakang retina mataku.

Aku tidak akan pernah sempurna. Satu hal yang aku pernah tahu, namun sulit sekali kupahami artinya. Aku tidak bisa memiliki segalanya. Satu hal yang pernah menjadi kemungkinan, namun tak pernah ingin aku jalani waktu-waktunya.  Aku harap tetap menjadi kemungkinan saja, untuk selamanya.

Jadi, terima kasih cinta.

Atas segalanya.

Aku bahkan dapat mendepak kedunguanku. Aku melemparkannya! Aku membuangnya tanpa ampun ke sebuah pembuangan yang khusus menampung seluruh rasa-rasa terabai.

Aku berusaha untuk mengabaikan kedunguan. Untuk lebih hidup dalam kecermatan, kecerdasan, kepintaran dan segala kelebihan yang lain. Jikapun itu rasa akan kembali suatu saat nanti, aku tentu saja akan menghadapinya dengan lebih berani. Asah saja pisau itu sekali, maka kugasak para pecandu kekerasan. Kubantai rebah-rebah kemalasan. Kusingkirkan desah-desah keluh yang tak berujung. Dan tak berpotensi sama sekali.

Kurontokkan kebodohan! Atas nama kegemilangan harapan.

Jadi, terima kasih cinta. Atas segalanya.

Tidak mengapa kamu berlari deras ke arah berlawanan. Benar! Benar-benar dapat kupahami! Ini bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan.

Kecupan memang berakhir sampai di situ. Belaian menghujam dari kenyataan menjadi mimpi belaka.

Aku pernah memasang cinta di dirimu. Aku menitipkan pesan terhangat jiwa di tiap-tiap pelukanku dan pelukanmu. Aku sebarkan hasrat suci di balik kecupan-kecupan kecil. Lantas, mengapa? Semua adalah tulus. Semua sudah terlanjur dilakukan. Dan kini, tak bisa kembali lagi. Juga tak bisa menjadi hutang. Berlalu saja sebagai jalinan pertumbuhan. Sama seperti rambut. Awalnya botak lantas berambut. Lama-lama lalu menjadi putih. Mungkin pula rontok hingga polos kembali.

Kamu pun harus berterima kasih pada cinta.

Kamu pergi dariku memang menunjukkan bahwa muak sudah merasuki tulang-tulang tubuhmu. Ingin muntah. Atau mencaci maki cinta. Tapi apa kamu lupa bahwa pandanganku pernah menjadi surga bagi matamu? Pelukanku pernah menjadi kehangatan terbaik bagi raga dan batinmu? Hari-harimu bahkan kuisi dengan seluruh kenyataan terbaik, yang mampu melebihi impian terindah sekalipun. Masa-masa keemasan. Apa kamu lupa?

Kamu tetap kucatatkan dalam album masa-masa terbaik. Sang juara. Tapi maaf, karena semuanya harus kulupakan?

Terima kasih, cinta! Aku juga sudah diajari berkali-kali tentang bagaimana cara melupakanmu.


 

Aku memicingkan mata sekali lagi.

Aku tambatkan perahu sekali lagi, di sebuah pelabuhan kosong. Aku tidak tahu musim apakah ini. Jadi aku sulit mengerti kemana angin akan mengobral hembusan. Ada bisikan aku harus menunggu sebuah kapal untuk berlabuh. Tapi ada pula hentaian ucap, mengerahkanku untuk menyiapkan layar dan segera membelah laut.

Keduanya sama sulit. Bahkan mungkin akan jauh lebih sulit lagi karena aku tidak  yakin jika ada yang mau mendekat untuk dibujuk.

Semisal nanti hujan dan air memiliki kesempatan untuk jatuh di atas pori. Kemudian menyusup. Seluruhnya maka akan menjadi peka. Bahkan perasaanku. Aku tahu, bekunya hati untuk sementara waktu akan bodohkan aku lagi. Meski tidak dungu.

Aku tidak menyerah!! Patahan-patahan yang beku itu perlu diasah kembali. Harus sanggup melawan dingin. Harus mampu sehalus sutra.

Kini, sudah ada sayap di tanganku lagi. Belum aktif, memang. Masih kurang pemicu satu lagi.

Kupikirkan lagi seluruh kemungkinannya.

Pikirku sudah mengawali pacuan perasaan. Lagi-lagi mempertaruhkan hati. Entah akan terluka lagi atau tidak. Entah seberapa parah akan terluka lagi.

Aku tidak gentar. Sama sekali tidak takut pada goncangan. Kuijinkan lagi perjudian merambah tatap-tatap pandang sebuah harapan. Tanpa ragu-ragu. Aku meruntuhkan tembok keraguan, sambil memandang yakin ke sebuah sudut kosong. Lebih baik kosong itu terus kutatap hingga tumbuh bentukan nyata daripada tidak sama sekali. Lebih baik aku mencari lagi gerakan-gerakan asmara yang paling hebat, daripada berimajinasi sendirian. Lebih baik ada kamu yang lain, untuk menjamah bau kecut paling pribadi dari tubuhku yang berdosa.

Bukan kamu, maaf! Melainkan kamu yang lain. Kamu boleh saja pergi dan mungkin lebih baik pergi. Aku tak butuhkan kamu lagi.

Aku tuang air panas keriangan pada cangkir penampung keresahan. Biarlah melebur resah itu, berubah menjadi tawa dan canda. Yang jujur dari hati.

Aku biarkan pori-pori serbuk kegundahan itu hilang musnah karena tak mampu menahan diri agar tak terkoyak oleh panasnya cairan pembius. Air panas dari teko pemikiran. Pemikiran matang, semoga.

Sebenarnya, aku tidak tahu apakah larutan itu dapat memberikan kenikmatan bagiku. Menguji saja roda nasib. Menyerahkan segalanya pada Tuhan. Tanpa rasa malu dan sungkan.

Sungguh sebuah perjudian lagi. Tak habis-habisnya tapi tak mengapa. Terlanjur terlena. Keburu candu. Apa dosa berjudi dengan nasib?

Jadi aku tidak peduli.

Sekali lagi, aku sungguh tidak ambil peduli.

Dunia tidak sedaun kelor. Saat dibuat sketsa bumi yang pertama, cukuplah terbuka lipatan nyawa untuk berdiam di sini. Aku hanya kecil. Kamu hanya setetes. Hanya sesuatu yang sulit diperhatikan bila sekilas.

Aku akan temukan sesuatu yang kecil itu. Aku akan reguk nikmat masa-masa menakjubkan bersama sesuatu yang setetes itu. Sebentuk manusia. Sejenis wanita.

Bukan kamu, aku kata.

Melainkan orang lain yang akan segera menjadi kamu. Bukan menyerupai kamu. Ucapannya saja yang kualihkan. Jika dulu kamu itu untukmu, kini kamu itu akan kupilihkan untuk seseorang itu.

Setelahmu.

Tidak harus lebih baik darimu. Tidak harus juga memiliki pemikiran untuk meninggalkanku.

Aku lelaki setia pada angin. Dan aku ingin menikahi angin yang tak pernah berkhianat padaku.


 

Kuakui, aku kalah langkah.

Meski paham sekali bahwa aku tak mungkin mengambil langkah itu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Hati tak mungkin berlari menjauh. Hati terlanjur terpasang pada titik terindah dari dirimu. Pada  titik ternyaman kita berdua.

Mungkin kamu menuai kata selayak noda. Sehingga kau ucap semburan perpisahan itu dalam kerut-kerut yang ringan. Enteng, tanpa beban. Terlintas sudah tuduhan-tuduhan miring dari jiwa yang terlibas. Aku menyempatkan mampir pada pemikiran bahwa bagimu semuanya tinggal hari saja, saat hendak mengakhiri. Ketika hendak pergi dan henti menoleh.

Hari-hari itu telah terhitung. Dengan seksama. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tentu saja, tidak ada kekhilafan. Ini adalah keputusan sepihak yang tentu tidak pernah menyisakan kekhilafan. Siapapun sungguhlah sulit meneguhkan pandang pada gerakan asmara sekawanan burung di langit ketika berada di gerbang keangkuhan. Andaipun menyesal, tetap saja tak terakui sebagai kekhilafan. Hanya kegilaan sesaat. Sesuatu untuk mengulas kembali masa kecil yang liar, dengan jutaan dispensasi.

Cinta adalah kegilaan sesaat. Begitulah pula mungkin arti bagi pemutusan ikatan cinta, bagimu. Kelanjutannya. Pematokan makna dangkal cinta yang memang hanya menyapu kulit kita untuk beberapa belaian saja. Tak bisa meminta lebih, apalagi selamanya. Jika cinta meledak seperti gunung berapi dan lantas mereda, maka kini kau telah meredakannya untukku.

Hari-hari telah menjadi patung. Terdiam tanpa nyawa. Apa kamu pernah menyaksikan patung berjalan, dan lantas menyapa? Itulah hari-hariku. Setelah kamu pergi.

Kutunggu saja nanti sebuah misteri lagi. Dari Tuhan, atau alam. Lewat caranya lagi yang enggan kumengerti dengan benar, dan singkat. Atau begitu saja. Selalu saja harus dengan pemikiran, meski belum tentu betul. Lama-lama malas. Lama-lama menunggu saja. Lama-lama menerima semua sebagai anugrah. Menerima juga sebagai sebuah bencana, ketika amarah terpicu. Seperti kubilang bahwa ingin kukatakan menyesal telah mengenalmu, tapi apa lacur, aku hanya bisa terdiam karena aku terlintas bimbang. Apakah anugrah atau bencana, hadirmu di meja-meja sajianku itu?

Kemana pergi kata-kata mesra dari bibir indahmu? Hanyut sajakah ke lintasan-lintasan aliran sukma hingga keruh sampai muara? Aku tak merindukan kata-kata itu. Sungguh. Membayangkannya saja sudah tidak ingin lagi.

Kata-kata puitis toh tak akan pernah mati. Kata-kata tetap berpijak pada  buminya yang selalu saja tua. Lagipula, kata-kata mesra tak selamanya harus puitis. Seperti kata-katamu. Petak-petak lingkaran maknanya tak pernah tampak karena sengaja kau hilangkan. Dengan pintar. Dan yang hadir diantara sela-sela bibirmu itu justru pengagungan sukmaku.

Ah, kata-kata mesra!! Yang universal. Sederhana menyentuh hati, mampu tergadai seluruh perasaan. Belai-belai sendu asmara. Bersyukurlah para penyair dengan liarnya kata-kata. Warisan tak ternilai. Sahabat kata-kata. Mampu menyihir dirinya sendiri dengan kata-kata mesra. Bukan kebutuhan, memang, kata-kata itu. Aku telah menancapkan dalam pikir bahwa aku tidak membuai diri dengan kata-kata. Ketika sepi menggelora, iringi kamu pergi, aku lantas berdiam diri dan melanjutkan nafas-nafas itu, tetap dengan surga.

Kamu boleh saja pergi.

Sepi juga boleh kamu tinggalkan di pundakku. Boleh kamu titipkan di kedip-kedip waktu.

Tapi surga akan tetap jadi milikku. Tak peduli seberapa besar peranmu dulu ketika menjabat surga untukku. Kamu hanya pernah. Tidak lagi sebagai.

Bertekad untuk mengungkap misteri. Akan cinta.

Aku lantas lenguhkan segala keresahan. Gelisahpun kusodorkan terus ke ujung hati hingga bosan menanduku. Ketaktenangan hati menjadi sosok-sosok beku yang sulit dicairkan. Aku hanya bisa mencairkan kebuntuan dan kebisuan saja.

Namun dua hal itu malah cukup. Cukup sekali. Malah terkadang, lebih dari cukup.

Sungguh!

Pernah terpikir tentang sebentuk bunga. Atau kelopaknya, bukan tangkai dan daunnya.

Aku berpikir, alangkah bunga menjadi surga ketika dipetik olehku langsung dari tangkainya. Bunga itu, atau cukup kelopaknya saja, lantas di pegang hati-hati oleh tangan-tangan kasarku. Aku kemudian bergegas menghampirimu. Aku pernah berpikir bahwa semakin lama bunga itu terlepas dari tangkai, semakin hilanglah rona-rona hidup dunia keindahan dan keharuman. Padahal rona-rona hidup itulah yang ingin kubagi denganmu.

Ingin kubagi surga denganmu. Tidak ingin neraka yang kubagi.

Ingin kubagi surga itu denganmu. Surga yang datang dalam cara-cara sederhana dan nyata. Surga yang juga datang dari bunga yang kupetik dan kuserahkan kepadamu, saat rona-rona hidupnya masih mampu terjaga. Atau setidaknya sudah kuusahakan jaga, agar menemuimu dalam warna aslinya.

Aku tidak ingin bunga itu terjatuh. Termasuk dalam jejak-jejak perjalanan menghampirimu. Andaipun bunga itu terjatuh, aku tidak akan memungutnya dan meneruskan langkah menjemput sosokmu. Lebih baik aku kembali beberapa langkah, atau jutaan langkah, untuk petikan lagi bunga yang baru.

Tidak akan lagi tersisa rona dari bunga yang terjatuh.

Dan aku tidak akan memberikanmu bunga tanpa rona. Atau bunga tanpa lintasan jiwa. Karena itu hanya akan menjelma hampa. Aku bukanlah hampa. Aku bahkan tidak diajarkan untuk menjadi penjaga sepi. Aku adalah warna. Aku adalah sentilan tajam suatu nuansa. Aku tak mau hadir sebagai kelam dan diam. Apalagi kering.

 Meski melintas gunung berliku, dalam ganasnya sembilu, aku tidak akan memilih untuk memungut bunga itu! Bunga itu akan menjadi milikmu. Jadi apa aku pantas memberimu sesuatu yang sudah terjatuh? Apalagi jatuhnya itu lebih karena aku gagal memegangnya erat, walau tidak merusak urat bunga yang lembut.

Kecuali jika aku sudah jungkirkan bumi dan gagal. Baru boleh kamu menjemput kemiskinanku. Atau keterbatasanku. Semoga saja bisa kau terima dan bertahan di sampingku. Karena sejujurnya bukan itu yang kutawarkan padamu. Aku menawarkan surga!! Aku menawarkan keinginanku untuk merubah malam menjadi siang, demi kamu. Andaikan tidak berhasil, aku toh tetap akan memberikan harta yang paling besar dariku. Dialah hati dan kemauan keras untuk menjemput hari-hari bahagiamu.

Henti bertanya tentang kasih, aku lantas bergunjing seorang diri. Harap bertahun pelukan bidadari, aku lantas berpacu dengan waktu. Kau merengkuh selintas bayangku, mengabarkan terus kabar gembira bahwa cinta kan selamanya indah. Bersamamu.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help