Ari's posts with tag: kontemplasi
Tadi siang, diantara jarum 12 dan 1 di jam tangan, ada pemandangan yang membawa saya jauh ke masa kecil. Dalam hal kenangan.
Ada seorang anak SD yang sedang berjalan mundur. Wajahnya gembira. Penuh keyakinan pula. Sampai akhirnya matanya bertemu dengan mata saya. Dia sempat tersenyum kecil kemudian berbalik dan berjalan dengan normal kembali. Seperti malu. Seperti seseorang yang ketahuan telah berbuat yang tidak dikehendaki. Seperti tertangkap basah. Ketahuan.
Saya pernah melakukan hal yang dia lakukan tadi. Bahkan sering. Saat usia saya tak jauh dengannya, sekitar 7 sampai 9 tahun, saya sering berjalan mundur hampir kemanapun. Pergi ke sekolah. Ke warung untuk beli Chiki, ke rumah tetangga, bahkan di dalam rumah sendiri saat hendak ke kamar kecil dari ruang tengah, atau kemanapun juga ke seisi rumah.
Yang saya ingat saat itu adalah saya merasa bosan dengan pemandangan yang saya lihat saat berjalan maju ke depan, layaknya orang berjalan pada umumnya. Seringkali saya penasaran, seperti apakah pemandangan di belakang saya. Seperti apakah jalanan yang baru saja saya tinggalkan.
Seringkali saya tak ingin tahu apa yang akan saya hadapi di depan dan lebih ingin tahu apa yang saya telah tinggalkan di belakang saya. Dan apa yang terjadi di belakang saya, setelah saya tinggalkan seiring dengan langkah-langkah saya.
Ada beberapa kemewahan yang hilang dalam diri saya ketika saya mulai pergi dan pulang kantor di temani B 1111 OX. Baik di balik kemudi, maupun duduk santai di samping istri yang sibuk memelototi jalan.
Kemewahan itu adalah menonton jalan dengan santai sambil memainkan banyak skenario di dalam kepala.
Kemewahan itu adalah menunggu angkutan umum di pinggir jalan, sambil mengajak ngobrol perasaan yang seringkali tidak menentu, entah karena kesal bis tak kunjung datang atau karena cuaca yang tidak bersahabat. Mengajak kompromi dengan perasaan dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kemewahan itu adalah kesempatan berbagi satu ruang kecil dalam angkutan umum dengan banyak orang berbeda setiap harinya. Tidak saya sangka, saya dulu sangat beruntung karena bisa berkenalan dengan mereka semua, meski tak sempat mengetahui lebih banyak daripada sekedar tampakan nyata mereka yang munculkan kesan di mata batin saya. Tak ada nama-nama yang aku dapat, apalagi tempat dimana mereka tinggal atau beraktifitas. (kalaupun ada, hanya beberapa orang saja)
Banyak orang yang merasa beruntung karena sudah bisa membeli kendaraannya sendiri, baik motor maupun mobil. Saya pun termasuk salah satu diantaranya. Tapi, saya baru menyadari sekarang bahwa dibalik kemewahan itu, ada kemewahan lain yang terpaksa hilang atau sulit dijumpai lagi.
Mungkin saya berlebihan. Tapi saya rasa, memiliki kendaraan pribadi mengerucutkan dunia saya menjadi dunia individualistis. Dunia privasi, yang seringkali menjadi standar kemewahan bagi hampir semua orang. Saya menikmati privasi itu, hidup dalam jajaran individualitas itu. Tapi, saya mencoba menyeimbangkannya dengan kemewahan saya yang lain; berbagi keringat dan juangan emosi bersama banyak orang lain yang memilih berkendara umum kemanapun mereka pergi, baik karena terpaksa atau memilih dengan sadar.
Makanya, saya sesekali pergi atau pulang dari kantor seorang diri, menggunakan angkutan umum daripada pergi bersama istri saya dalam lingkupan mobil kesayangan yang sejuk dan nyaman. Tidak alasan lain, selain karena tak ingin kehilangan kemewahan yang saya yakin bisa mempertahankan rasa tenggang rasa saya, yang suatu hari bisa menyelamatkan saya dari kesombongan dan lupa diri. Kebetulan, ada kalanya saya dan istri harus pergi atau pulang di saat yang tidak bersamaan.
 | nt | Apr 7, '08 2:33 AM for everyone |
Tidak ada yang menyuruhmu menjabarkan arti dari kata yang paling absurd itu di depanku. Kau saja yang terlalu ingin menemukan kemujuran dari ungkapan paling rahasia itu. -----sebuah lontaran tanpa kontrol-----
 | Langit | Apr 7, '08 12:47 AM for everyone |
Seorang kawan di lantai 5 kerap menyebut bakal anaknya "Langit". Mungkin dia nanti akan membagi alasan kenapa julukan atau nama itu keluar. Saya, selalu punya ikatan dengan langit. Dimanapun dan kapanpun. Bukan. Saya bukan Superman yang jika patah hati langsung terbang ke langit dan menangis di sana sambil melihat bumi dari ketinggian ratusan ribu kaki. (mungkin membayangkan Lois Lane lagi ngapain di bawah sana). Saya juga bukan pilot pesawat terbang yang mungkin tiap hari harus bertegur sapa dengan langit. Saya adalah saya, lelaki daratan yang kerap merindukan langit. Saya selalu punya ikatan dengan langit. Dalam situasi apapun dan dalam kesempatan apapun. Selalu ada rindu untuk keluar dari pikuk ruangan kerja yang kubikal, meski sekedar untuk menyaksikan bis-bis tanggung metromini meraung-raung dan menjajal jalanan dengan sembrono. Selalu ada keinginan menemani turunnya matahari dalam situasi apapun, terutama saat senja itu melukis langit dengan indah. Selalu dan selalu. Dulu sekali, sebelum saya memilih kehidupan yang terpola dari pagi hingga sore bahkan malam, saya selalu menemukan kenyamanan memandang langit sambil bercerita panjang lebar tanpa harus berbicara nyaring di setiap pagi dan di setiap senja. Ada titik rindu untuk menempuhi titik-titik hari itu lagi. Mungkin nanti, saat saya berani untuk melepaskan pola hidup yang masih harus saya pertahankan untuk mengisi buku tabungan setiap bulannya.
 | Ilmu | Feb 18, '08 8:24 AM for everyone |
Ada sebuah ilmu yang belum saya bisa pelajari dengan baik hingga hari ini. Ilmu itu adalah ilmu menguasai diri sendiri dan ilmu memahami orang lain.
Beberapa diantara kita masih diperbudak oleh gengsi. Tak pakai celana model terkenal, tak keren. Tak nenteng handphone multifungsi dan terbaru, tak cool. Bahkan tak nonton Jazz, tak PD gaul. Kenapa sih harus memaksakan diri memakai celana dalam Pierre Cardin yang harga per bijinya bisa 50 ribu perak, kalau isi dompet memang baru mampu membeli paket celana dalam isi tiga seharga 20 ribu? Toh, tak ada yang benar-benar melihat celana dalam kita, kecuali.....ah, tak usahlah diomongkan. Malu. Kenapa banyak energi dan uang yang terhambur tanpa guna hanya demi gengsi yang tak bisa dikejar? Gengsi cenderung terus mendaki dan tak mau disaingi. Sekali kita menempatkan diri sebagai budak gengsi, maka tiket perburuan menuju puncak gengsi akan terus menjajah kita. Dan tiket itu tak mudah, juga tak murah. Sudah banyak yang akhirnya menyerah meski hati belum puas; sisa hidupnya menjadi neraka dan mereka pun tersudut di pojokan rasa malu yang luar biasa. Pagi ini, saya dengar satu lagu dari Orkes Melayu PMR alias Pengantar Minum Racun. Judulnya "Katanya". Karena lagu itulah, saya jadi ingin menulis tentang manusia gengsi. Ini liriknya. KATANYA Hai….katanya……Mau pigi ke Eropa Hai….katanya……beli koper kulit gajah Ternyata kalau ke rumah Mampir dulu di tetangga Bisik-bisik pinjem duit tuk bergaya Hai….katanya……Doyan keju amerika Hai….katanya……Kalau singkong sorry aja Tapi kalau lagi susah Sepeser duit gak punya Celingak celinguk singkong racun sikat juga Janji sini hutang sana Senyum sini lirik sana Cinta murah diobral seribu tiga Sok aksi makanan mewah Sok gengsi makanan murah Kantong kempes mulut kering bau naga Hai….katanya……Sekarang lagi zamannya Hai….katanya……Manusia lupa dirinya Kepintaran di otaknya Sering sesatkan dirinya Keliwatan sampai jadi orang gila…. Ayo cintanya Neng ya diobral seribu tiga Cinta suci 500 Cinta buta 1500 Cintanya doing 1000, 500nya utang Kalau malam bisa melek Neng ya…ayo siapa lagi… Cinta monyet 250 Cintanya doang 200 monyetnya 50 Ya siapa lagi
Kalau ada satu kereta yang bisa membawa kita ke masa lalu, mungkin akan panjang antrian loketnya. Akan banyak yang berebut mendapatkan tiket itu, meski harganya mungkin selangit; mahal sekali. Tiketnya, tiket pulang pergi, tentunya. Karena jarang sekali ada orang yang mau hidup di masa lalu. Kebanyakan orang hanya ingin memperbaiki masa lalu, tapi tak bermaksud untuk tinggal selamanya di masa lalu. Tapi, saya banyak mengunjungi stasiun kereta dan tak ada satupun yang mempunyai jurusan Masa Lalu. Aneh. Kenapa orang harus berpikir untuk kembali ke masa lalu dan memperbaikinya jika tak ada jalur penghubung menuju masa lalu? Bukankah setiap keinginan selalu memiliki titik perwujudannya, yang sangat tergantung dari kerja keras dan kemauan si pemilik keinginan? Sama dengan ungkapan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, dan tergantung dari usaha keras umat manusia untuk mencari obat-obat itu? Kini banyak orang yang berpikir untuk pergi ke Masa Lalu, lantas punya keinginan dan kemauan untuk mewujudkannya. Tapi, mana kereta itu? Dan dimana stasiunnya? Konyol!!. Waktu terlalu cepat berjalan. Perjalanan ke masa lalu hanya akan membuat kita justru menjadi tertinggal sepanjang masa; tak mungkin mengejar lagi. Selamat tahun baru, rekan-rekan... Kita nikmati kekinian, yuk, tanpa harus berlari-lari hingga terengah, hanya karena kita kerap melakukan perjalanan ke masa lalu.
pikiran sudah menelurkan titah untuk menulis. atas banyak pemikiran dan tetek bengek yang lain. tapi kemana waktu? saya seperti kehabisan waktu, bahkan untuk menghela nafas sederhana yang singkat dalam pelupaan atas seluruh hal-hal duniawi.
Entah kenapa, badan terasa nanar. Kedua lengan pegal bukan main, mungkin karena angkat barbel yang dipaksakan sabtu kemarin. Badan yang nanar kemudian mencuatkan pilek yang tidak mau berhenti dari pertengahan siang hingga saat ini. Demikian mengganggu, harus bolak balik kamar mandi dan meminta tissue berkali-kali pada Sacha. Karena sedang puasa, obat flu baru bisa disantap beberapa menit yang lalu, selepas makan besar. Rupanya belum banyak membantu hingga saat ini. Pembuluh-pembuluh darah sepertinya masih memar dan pening. Darah seperti tak mengalir sempurna ke otak dan ke bagian-bagian tubuh yang lain. Untungnya, saya tidak sakit kepala. Biasanya, sakit kepala justru yang datang lebih dulu. Nanti malam, akan saya santap lagi dua tablet obat flu. Semoga saja tidurku nyenyak dan bisa terbangun dengan kondisi tubuh yang prima. Banyak hal yang harus dipikirkan hari ini namun terganggu oleh simpang siur badan ini. Semuanya harus saya kejar esok... Tidak. Saya tidak akan mengejar Mas-Mas, seperti yang dilakukan Rudi Soedjarwo dan Monty, film yang banyak mencuatkan kritik pribadi saya yang lagi-lagi klise terhadap film lokal. Tidak. Saya tidak akan Mengejar Mas-Mas. Saya akan mengejar ketertinggalan pekerjaan hari ini....
Serentak saja, ada sebuah kerinduan di pagi ini.
Sudah hampir satu tahun, saya meninggalkan Tendean 12-14 A. Rupanya, waktu demikian celaka pada pertemuan-pertemuan kecil dengan teman-teman lama. Waktu demikian sempit, untuk dihabiskan dengan teman-teman di Tendean 12-14 A.
Saya terlalu memanjakan pekerjaan baru ini. Secara sadar, tenaga terus dikuras sehingga waktu kosong lebih saya hargai dengan beristirahat seorang diri, atau bersama Dewi. Saya seakan lupa bahwa selalu ada rindu untuk berbincang sambil bercanda lagi bersama Bowo, Jafar, Ipul, Nabil, Vini, Daus, Desi dan hampir seluruh penghuni lantai 3 tercinta.
Luar biasa, segala yang kami pernah lalui. Mimpi saja tak akan bisa seindah itu. Kemarahan, kekesalan, konflik dan apapun hal-hal buruk keparat itu memang pasti ada. Saya tak akan memungkiri itu. Saya bahkan beberapa kali beradu urat dan melancarkan aksi permusuhan. Tapi, bukankah ada cara-cara tertentu dalam memahami orang, termasuk untuk dipahami?
Kini, rindu itu menyengat seperti terik. Sore nanti, saya akan pulang lebih awal dari kantor dan mendatangi Tendean 12-14 A, untuk mencari mangsa-mangsa yang demikian saya rindukan; bukan secara individu saja melainkan secara kolektifitas mereka sebagai pasukan dalam payung yang sama.
Ada saat-saat dimana saya menikmati kesendirian saat berada dalam lift. Tak peduli hanya naik atau turun satu lantai saja, kesendirian itu terkadang menimbulkan kenikmatan sesaat. Kalau egoisnya kumat, saya terkadang malah bergegas menekan tombol untuk menutup pintu agar tak ada sesiapa lagi yang ikut dalam tabung lift itu.
Terkesan menggelikan, memang. Apalagi, hal ini bisa menimbulkan anggapan bahwa saya tak toleran atau saya demikian ingin mendapatkan pelayanan istimewa.
Tidak. Ini sama sekali bukan masalah toleransi ataupun pelayanan yang istimewa. Ini hanya perasaan yang kerap naik ke batas pemikiran setiap kali melintasi lantai demi lantai dalam lift seorang diri. Saya seperti tergagas untuk berpikir singkat, tentang apapun juga. Jika naik lift sepulang kerja, dan hendak beranjak pulang, saya seakan diajak berpikir mengenai hal-hal yang sudah dan belum dilakukan hari ini dalam tumpukan pekerjaan. Jika naik lift saat masuk kerja di pagi hari, saya seakan diajak berpikir lebih dalam mengenai mimpi-mimpi saya, obsesi saya bahkan mengulas balik lintasan imajinasi yang biasanya banyak timbul dalam perjalanan dari rumah ke kantor. Jika naik lift dalam pertengahan keseharian, saya seakan diajak berpikir untuk mencoba sesuatu yang baru, seakan dibangunkan dari tidur-tidur kebosanan.
Hal ini demikian menarik. Kesendirian dalam lift telah mencuatkan nikmat yang amat sangat. Semoga saja, hal ini tidak akan mengganggu saya. Saya tidak ingin berpura-pura sendiri dalam lift, meski ada banyak orang di situ. Jika ada banyak orang dalam lift yang sama dengan saya, saya cenderung untuk memperhatikan mereka, satu per satu. Lebih enak bermain dalam pikiran, dengan menerka-nerka banyak hal tentang mereka.
Pernah, Bapak berkata bahwa hidup ini tidak selamanya indah. Bapak bilang, saya harus menerima dengan besar hati jika suatu hari nanti saya berkutat dengan kegelapan dan kesedihan yang tidak berbatas. Bapak berharap saya siap di saat-saat itu, terutama agar saya memilih untuk tetap bertahan dan berjuang dan bukannya menghabisi nyawa sendiri hingga dosa itu tak akan termaafkan.
Namun, seringkali saya bertanya pada setiap rendah nafas-nafas itu. Apa mungkin itu adalah bagian dari kegelapan itu?
Pak Badu jalan terburu-buru pagi ini. Maklum, jam di tangannya sudah memacu diri menuju angka 8. Pak Badu enggan terlambat lagi. Bukan semata karena akan dimarahi Pak Sulis, melainkan lebih dari itu. Pak Badu takut dipecat.
Pak Badu sungguh tergesa pagi ini. Entah karena apa, keberuntungan pun nampaknya tak ad di pihak Pak Badu. Sampai di perempatan Kuningan, lampu hijau menyala, hingga ramailah mobil dan motor itu melaju di depan mata Pak Badu. Pak Badu tak bisa lewat. Dia hanya bisa menggerutu dalam hati, dalam ketidaksabaran yang mengganggu.
Saking tak sabar, Pak Badu merangsek lebih ke depan, turun dari pembatas jalan dan berada di tengah-tengah jalur busway. Keberadaan dia di jalur itu memang tak semestinya. Pertama, itu adalaj jalur untuk Bus Transjakarta. Meski saat itu bis tidak melintas, tetap saja jalur itu semestinya bersih dari segala halangan. Kedua, sudah ada pembatas jalan sebagai tempat menunggu sementara (meski sangat kecil dan masih saja berbahaya).
Karena kesalahan itu, Pak Badu pun kemudian diperingatkan oleh seorang perwira polisi yang saat itu sedang mengatur lalu lintas. Pak Badu rupanya tak terima dan balik menyumpahi Pak Polisi. Pak Badu tahu kalau dia salah, tapi dia tak terima mendapat teguran. Pak Badu sepertinya malu karena tertangkap basah sedang melakukan kesalahan. Tak cukup sampai di situ, Pak Badu malah semakin maju mendekati ruas jalan yang masih ramai oleh mobil yang lalu lalang. Ini adalah pemberontakan! 'Enak saja ngatur-ngatur!!', mungkin pikir Pak Badu.
Daripada malu, dan memang sudah kadung malu, Pak Badu memilih menyumpahi balik Pak Polisi itu dan terus merangsek maju, bukannya mundur dan mengikuti aturan.
Apakah kita sudah sedemikian bebal hingga rasa malu justru dilawan dengan aksi pemberontakan yang tidak perlu?
Apakah kita sudah tak bisa lagi mengaku salah dan akhirnya siap menerima rasa malu itu dengan besar hati?
 | Cermin | Apr 23, '07 8:00 AM for everyone |
Saya memiliki dua cermin setiap harinya. Kedua-duanya tak terlihat. Semuanya hanya bisa saya temui jika saya bertemu Tuhan; jika saya berkunjung ke rumahNya dan merendahkan diri sambil meminta maaf.
Cermin pertama adalah ketika saya melihat diri saya meringkuk tak berdaya sambil mencatatkan terus dosa-dosa itu. Cermin itu terpasang megah, menemani saya yang sedang dalam titik berhenti.
Cermin kedua adalah ketika saya kembali pada nafas harian dalam lingkupan duniawi. Dalam cermin itu saya tersenyum karena saya telah berbicara dengan Tuhan; setidaknya saya sudah menuliskan kedatanganku, sembah sujud sambil mensyukuri hari-hari itu.
Tidak banyak orang yang mengejar kesedihan. Semua berlomba untuk memenangkan adu cepat mendapatkan kesenangan. Ada apa dengan kesedihan? Kenapa tak ada yang berlomba untuk mendapatkannya?
Saya kadang ingin mengejar kesedihan. Seringkali, bahkan tanpa alasan yang jelas. Apa mungkin ada sedikit kerinduan pada kesedihan? Mungkin saja. Apalagi jika mengingat beberapa tahun ke belakang saat kesedihan seperti melekat tak terpisahkan, seakan terus menggelora tak tertahankan.
Apa kemudian rindu itu datang, rindu pada kesedihan? Sehingga saya kemudian terpikir untuk mengejar kesedihan?
Mungkin juga, karena saya merindukan saat-saat mendengarkan lantunan Duke Ellington, Tony Bennett, Chet Baker, dan beberapa nama pelantun jazz lain, yang kerap memberikan ruang yang demikian bebas setiap kali kesedihan itu datang. Lantunan itu memberikan surga hingga kesedihan pun akhirnya selalu bisa saya nikmati, hingga akhirnya sekarang bisa menimbulkan kerinduan. Hingga akhirnya muncul sebuah pemikiran untuk mengejar kesedihan.
Ada sebuah catatan dari masa depan. Saya tak bisa mengingatnya sekarang, melainkan nanti ketika aku sudah terlanjur terperosok. Saya bahkan tak bisa meminta para malaikat untuk membocorkannya pada saya. Semuanya adalah rahasia dari Tuhan.
Semoga saja, saya terperosok bukan pada titik rendah pemuasan rasa. Semoga saya terperosok pada rona kebahagiaan dan loncatan keriangan seluruh kujurku.
Ada sebuah catatan dari masa depan. Saya tak perlu tahu dan saya memang tak ingin tahu. Saya kejar saja skenario terbaik, dalam seluruh persepsi dan realita.
| |