Ari's posts with tag: jurnal

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jurnal
Photo AlbumJurnal: Penganten Sunat (18 photos)Jul 2, '08 9:49 AM
for everyone

Ada khitanan massal di kawasan Kayu Mas, Jakarta. Banyak ekspresi tertangkap di situ. Ekspresi yang membawa ingatan jauh ke belakang.

Photo AlbumJurnal : Satu hari di Den Haag (20 photos)Apr 22, '08 11:05 PM
for everyone



Seusai sholat Dzuhur di pinggir Teluk Bayur, kera-kera ini begitu banyak mengobral ekspresi. Jadi tidak tahan untuk menjadikan mereka model, meski mereka tak mengenakan busana terbaru keluaran para desainer kondang. Mereka berfoto bugil sambil memakan kacang.


Oleh-oleh ekspresi anak manusia dari perjalanan singkat di Jawa Tengah dan Jogja. Pasar ini tak jauh dari Tugu dan Malioboro. Pasar ini begitu menuai banyak ekspresi. Beberapa orang diantaranya bahkan mengajak saya berbincang dalam bahasa Jawa. Ah, maaf, saya tak melafalkan bahasa Jawa. Dan obrolan pun berlanjut dalam bahasa Indonesia. Ada satu diskusi dengan penjual berjilbab hijau yang namanya saya lupa (maaf), yang ada dalam salah satu foto, mengenai kamera digital. Dia rupanya juga hobi memotret dan bersyukur sekali dengan teknologi kamera digital yang memungkinkan dia memotret banyak tanpa harus bermodal banyak. Silahkan menikmati.

Photo AlbumSuatu senja di Nuamolo (8 photos)Apr 4, '08 8:37 AM
for everyone


Photo AlbumAksi Lapangan (tidak) Hijau (24 photos)Dec 29, '07 9:44 AM
for everyone









Dia tidak mau memberitahu saya siapa namanya. Dia hanya mengijinkan saya mengambil gambarnya saja. Itu saja. Saya temui dia di Jl. Dr. Satrio, di depan rumah makan sunda yang saya lupa namanya.


Kolong jembatan dan kolong fly over alias kolong tol di Jakarta sudah lazim dihuni manusia. Entah darimana datangnya, kawasan itu seakan tak pernah bisa dibiarkan sepi dan kosong. Selalu saja ada celah bagi mereka untuk mendirikan sepetak tempat tinggal hingga sepetak untuk mencari rezeki. Ini adalah sebagian potret dari anak-anak di kolong tol kawasan Sungai Bambu; kawasan yang kabarnya akan segera digusur oleh Pemerintah Kota dan Provinsi. Hendak kemana mereka pindah?


Tak tahan melihat kedua kucing yang tertidur pulas, saya lancarkan serangan jepretan kamera bertubi-tubi. Saya pikir, saking pulasnya, mereka tak peduli dengan bunyi klik dari kamera. Tapi ternyata, satu kucing terbangun. Kaget dan lari. Sementara yang satu lagi tetap tak peduli dan terus tertidur. Setelah puas, dan pesanan sudah datang, makan siang nampaknya harus segera dituntaskan.

Photo AlbumNarsis : Liputan Bantar Gebang (4 photos)Aug 6, '07 8:58 PM
for everyone


Photo AlbumJurnal : Peron, taman bermainku (12 photos)Jul 28, '07 5:53 AM
for everyone

Umi mungkin tak ada pilihan lain, selain mengajak anaknya Mia untuk bermain di peron Stasiun Manggarai. Saya kemudian mundur ke masa lalu, belasan tahun yang lalu. Dimana saya bermain? Dan dimana pula kamu semua bermain? Apa pernah terpikir untuk bermain di ujung peron, bertelanjang kaki di atas lantai yang mungkin hanya tersentuh sabun atau zat pembersih lantai setahun sekali?


Setiap hari mereka datang. Dengan jualannya masing-masing. Rupiah memang selalu menanti mereka di peron-peron, yang kadang berjejal, kadang sepi. Tak selalu banyak pundi yang masuk ke kantong mereka. Iwan bahkan mengaku penghasilannya menurun tajam. Makanya dia sempat berjualan di depan Kedubes Belanda, untuk mencari peruntungan baru. Hidup memang susah, terutama kalau dikaitkan dengan materi. Tapi bukankah hidup tak semata materi? Tak semata uang seribu, sejuta atau satu miliar? Iwan nampaknya masih akan memikul bakso cuankienya. Bu Ida juga mungkin masih akan menyeduh kopi, pop mie dan mengecerkan rokok-rokoknya. Semoga saja, bukan semata materi yang mereka kejar.


Setiap pagi tiba, ada keriuhan di pesisir pantai Anyer. Nelayan mulai kembali dari laut. Perahu-perahu kayu itu satu per satu merapat ke daratan. Setiap merapat, sang nelayan kerap dibantu oleh rekan-rekan sesama nelayan untuk menambatkan perahunya. Selain oleh sesama nelayan, yang kadang jarang ditemui di pesisir pantai karena masih di laut atau sedang menjual ikannya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), mereka pun dibantu oleh anak-anak kecil yang kebetulan sedang bermain di sekitar pantai. Tapi, ternyata bantuan itu tak cuma-cuma. Para nelayan harus menyiapkan ikan-ikan kecil, atau udang, atau cumi, untuk dibagikan kepada anak-anak itu sebagai upah.


Lebih banyak foto tim liputannya sih, terutama dua perempuan yang entah kenapa narsis sekali di hari itu. Foto diambil sebagian besar oleh saya, namun ada beberapa shot diambil oleh Beski. Foto saya, misalnya....he...he..he..

Photo AlbumJurnal : Purworejo and the Beach (19 photos)Jul 19, '07 10:34 AM
for everyone

Taken by Desi Ardiana and Fraya Wowiling, these pictures are representing our short visit to a nearest beach from Purworejo, named Ketawang. One of the pictures is a symbol of "Dewi Kesuburan". We named the picture: "Cahaya Selangkangan". Guess which picture it is!!

Photo AlbumJurnal : Dafa dan Radionya (6 photos)Jul 19, '07 4:13 AM
for everyone


Blog EntryJurnal : Pembacaan Puisi Tengah MalamJul 17, '07 2:09 AM
for everyone

Tepat tengah malam di pergantian hari Minggu menuju Senin, Dewi membacakan puisi "Kucing", buah tangan Sutardji. Ngiau!!! Memeong layak kucing, memecah kesunyian malam yang gulita.

Adalah sebuah pengorbanan yang besar, saya rasa, di penampilan Dewi malam itu. Bagaimana tidak, Dewi harus menunggu 10 jam di Taman Ismail Marzuki untuk menunggu giliran tampil. Lomba rupanya berlangsung lambat dan banyak sekali mengalami rehat.

Saat nomor 319 kemudian dipanggil, Dewi yang sempat kehilangan semangat karena lelah yang luar biasa, akhirnya naik panggung. Saya sudah siap dengan baby canon kami, mencoba mencari sudut yang tepat dalam cahaya yang minim dan tak ingin menggunakan flash.

Penampilan Dewi sangat baik. Sama baiknya dengan seluruh latihan di depan kaca dua malam sebelumnya, tepat di tengah malam juga. Saya jadi tergelak sendiri mengingat itu.

Saking banyaknya pekerjaan di kantor, saya dan Dewi seringkali harus pulang kerja menjelang tengah malam. Itu pula yang terjadi di hari Jum'at, empat hari lalu. Naskah puisi yang baru saya terima jum'at siang, sudah beralih ke tangan Dewi, namun kesempatan membacakannya dengan lantang dan ekspresif baru bisa dilakukan sesampainya kami di rumah. Menjelang tengah malam di pergantian hari Jum'at menuju Sabtu. Teriaklah dengan lantang, istriku!! Gelorakan saja rumah ini dengan puisi-puisi Sutardji yang bunyi. Kami sedikit tak peduli jika tetangga terbangun karenanya. Ah, biar saja. Paling buruk, mereka akan mengira kami sedang adu mulut dalam perkelahian suami istri...he...he...

Hari sabtu pun sama saja. Sepanjang siang, Dewi tak sempat berlatih banyak. Ada banyak aktifitas, termasuk menghabiskan senja di UI, untuk mencari objek foto yang menarik. Jadilah, latihan itu kembali digelar tengah malam.

Yang jadi pertanyaannya adalah, apakah jika Dewi berlatih setiap tengah malam bisa berarti dia pun harus membacakan puisinya dalam lomba tepat di tengah malam juga?

Selain puisinya yang absurd, Sutardji juga pada akhirnya meninggalkan kami dengan sebuah cerita yang absurd. Dan jika memang kami tahu kalau Dewi akan membacakannya tepat tengah lama, rasanya tak akan kami datang jam 2 siang hari itu.

Atau apa ada sebuah makna yang hendak diberikan Allah? Terutama untuk kunjungan singkatnya ke Istiqlal yang menakjubkan?

Entahlah.

 


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help