Tepat tengah malam di pergantian hari Minggu menuju Senin, Dewi membacakan puisi "Kucing", buah tangan Sutardji. Ngiau!!! Memeong layak kucing, memecah kesunyian malam yang gulita.
Adalah sebuah pengorbanan yang besar, saya rasa, di penampilan Dewi malam itu. Bagaimana tidak, Dewi harus menunggu 10 jam di Taman Ismail Marzuki untuk menunggu giliran tampil. Lomba rupanya berlangsung lambat dan banyak sekali mengalami rehat.
Saat nomor 319 kemudian dipanggil, Dewi yang sempat kehilangan semangat karena lelah yang luar biasa, akhirnya naik panggung. Saya sudah siap dengan baby canon kami, mencoba mencari sudut yang tepat dalam cahaya yang minim dan tak ingin menggunakan flash.
Penampilan Dewi sangat baik. Sama baiknya dengan seluruh latihan di depan kaca dua malam sebelumnya, tepat di tengah malam juga. Saya jadi tergelak sendiri mengingat itu.
Saking banyaknya pekerjaan di kantor, saya dan Dewi seringkali harus pulang kerja menjelang tengah malam. Itu pula yang terjadi di hari Jum'at, empat hari lalu. Naskah puisi yang baru saya terima jum'at siang, sudah beralih ke tangan Dewi, namun kesempatan membacakannya dengan lantang dan ekspresif baru bisa dilakukan sesampainya kami di rumah. Menjelang tengah malam di pergantian hari Jum'at menuju Sabtu. Teriaklah dengan lantang, istriku!! Gelorakan saja rumah ini dengan puisi-puisi Sutardji yang bunyi. Kami sedikit tak peduli jika tetangga terbangun karenanya. Ah, biar saja. Paling buruk, mereka akan mengira kami sedang adu mulut dalam perkelahian suami istri...he...he...
Hari sabtu pun sama saja. Sepanjang siang, Dewi tak sempat berlatih banyak. Ada banyak aktifitas, termasuk menghabiskan senja di UI, untuk mencari objek foto yang menarik. Jadilah, latihan itu kembali digelar tengah malam.
Yang jadi pertanyaannya adalah, apakah jika Dewi berlatih setiap tengah malam bisa berarti dia pun harus membacakan puisinya dalam lomba tepat di tengah malam juga?
Selain puisinya yang absurd, Sutardji juga pada akhirnya meninggalkan kami dengan sebuah cerita yang absurd. Dan jika memang kami tahu kalau Dewi akan membacakannya tepat tengah lama, rasanya tak akan kami datang jam 2 siang hari itu.
Atau apa ada sebuah makna yang hendak diberikan Allah? Terutama untuk kunjungan singkatnya ke Istiqlal yang menakjubkan?
Entahlah.