Ari's posts with tag: cerita kecil
Saya adalah peminat topi.
Sudah puluhan bahkan ratusan topi saya pakai, sejak kecil sampai sekarang. Tentu, tak semuanya saya beli, atau orang tua saya beli. Apalagi saya bukan lelaki yang selalu bergelimang harta berlebih hingga mampu membeli benda penghias dan berstatus sebagai kebutuhan tersier itu. Kalaupun ada topi yang saya beli dengan harga yang tinggi, karena saking senangnya seperti cinta, maka pernah saya terpaksa tak makan dengan lauk yang pantas di warung Bang Udin, warung langganan di dekat rumah kontrakan ABAH semasa saya kuliah.
Saya menyenangi kepala ini berteman dengan topi.
Pernah topi berlabel "Bayern Muenchen", lengkap dengan logo khasnya tertinggal di bis ekonomi Bandung-Jakarta karena saya tertidur hingga terminal dan saya lupa pada topi yang sengaja saya sangkutkan di pegangan pinggir kursi itu saat saya mulai tertidur.
Pernah pula saya dipertanyakan kewarasan oleh teman-teman kuliah saat saya memakai kopiah ke Kampus. Saat kuliah selama beberapa hari. Dan bukan pada bulan Ramadhan. Dengan celana jins bolong dan belel serta kaos yang mulai lusuh. Saat saya merasa tak ada topi lain yang lebih enak dipakai.
Pernah saya beli topi koboy di Jogja. Dari kulit sapi. Warnanya hitam. Tapi sayang tak banyak terpakai. Selain tak terlalu nyaman karena selalu ada rasa sakit setelah memakainya, saya merasa belum pas untuk berganti kewarganegaraan dan berpura-pura sedang berada di Alabama. Saya juga belum siap menjadi sosok seorang lelaki asli Tengger yang pandai berkuda.
Ada banyak cerita dalam sepucuk topi, apalagi berpucuk-pucuk topi. Ada banyak topi yang dibuat setiap hari, tapi tak selalu mereka lekat di hati.
Nama aslinya Muhammad Aris Subadillah. Tapi, nama itu tak akrab di telinga teman-temannya. Mereka biasa memanggil dia Ubay; entah darimana asalnya. Jadi begitulah. Dia pun kerap dipanggil Ubay dan mulai terbiasa dengan panggilan itu. Nama itu pulalah yang muncul dari mulutnya saat saya menanyakan namanya. Ubay. Pertama kali saya melihatnya, langsung ada daya tarik luar biasa; daya tarik untuk mengajaknya bicara setelah pelajaran selesai. Waktu itu, saya sedang sibuk dibalik lensa. Jepret sana, jepret sini; mencari objek foto yang menarik. Sampai tibalah saya di sebuah ruang kelas darurat dengan segala macam kekurangan itu; salah satu ruang darurat di Sekolah Darurat Kartini (pimpinan Ibu Kembar Bu Rosie dan Bu Rian) yang hanya ditutupi kain terpal biru dengan meja dan kursi yang sudah nyaris roboh. Tak ada dinding permanen di situ, hanya lempengan-lempengan triplek dan kayu seadanya. Di ruangan itu saya lihat ada satu orang anak yang demikian serius belajar. Dialah Ubay, murid kelas 1 yang duduk di barisan paling depan. Di kelas Ubay, Bu Rosie sedang mengajar bahasa Indonesia. Anak-anak diminta menyusun kalimat tanya dari beberapa kata yang ditulis di papan tulis. Ada lima kata, kalau saya tidak salah; buku, pensil, sepatu, tas dan rautan. Bu Rosie memberi waktu 20 menit pada anak-anak itu. Setelah Bu Rosie berkeliling ke beberapa kelas lain dan kembali ke kelasnya Ubay, pemeriksaan pun dimulai. Tibalah giliran Ubay. Saya berada persis di depan Ubay dan di belakang Bu Rosie. "Mana kalimat kamu, Ubay?" "Ini Bu." Dengan penuh semangat, Ubay memperlihatkan kalimat-kalimat yang dia tulis dalam buku. "Ini salah, Bay. Kalimat tanya harus bertanya, bukan memberi tahu." Ubay, yang penuh rasa ingin tahu, tak menerima penjelasan Bu Rosie begitu saja. Dia bertanya kembali, dengan kejujuran sikap dan kepolosan seorang anak. Bu Rosie kembali menjelaskan dan Ubay pun tertunduk kembali pada bukunya. Sambil mengeja kata-kata yang dia tulis, Ubay mencoba menarik perhatian Bu Rosie untuk mendengarkan sususan kalimatnya yang baru. Bu Rosie pun terpetik perhatiannya. Namun, masih saja salah kalimat Ubay.Tapi Ubay tak mau menyerah, sampai akhirnya Bu Rosie membimbingnya kata demi kata. Baru Ubay tersenyum puas, berhasil membuat kalimat tanya, berhasil menyelesaikan tugas dari gurunya.  Usia Ubay baru 5 tahun. Ubay adalah satu diantara anak-anak miskin yang sekolah gratis di Sekolah Darurat Kartini; berlokasi di lapangan kosong samping Taman Impian Jaya Ancol. Setiap hari, kadang dia diantar Ibu atau Bapaknya, tapi seringnya dia pergi sendiri atau berdua dengan Ela, teman sekelasnya yang 1 tahun lebih tua. Rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah ini. Namun Ubay harus berjalan kaki setidaknya selama setengah jam. Ketika saya tanya, "Biasanya pergi sama siapa?" Ubay menjawab, "Biasa sama Ela (sambil menunjuk ke arah Ela). Gak jauh kok, ke arah sana tuh...(menunjuk lagi ke sebuah arah yang samar, menurut saya)" "Memang Ibu kemana?" "Ah, kasian Ibu!! Ibu harus gendong adek..."
 | Swallow | Aug 6, '07 11:20 PM for everyone |
Ini lagi-lagi cerita kecil dari masa kecil. Cerita mengenai sendal jepit, yang seringkali dilempar kalau ada perkelahian rumah tangga atau seringkali hilang di depan mesjid dan musholla. Mungkin ada yang ingat, kapan munculnya sendal jepit Swallow untuk pertama kali. Saya sendiri tak ingat persis kapan sendal jepit merek ini muncul. Yang saya ingat justru kemunculan Swallow di tengah-tengah masa main-main saya bersama teman-teman kecil yang masih kecil, dengan perabotan tubuh yang juga ikutan masih kecil. Mengejutkan sih tidak. Cenderung biasa saja. Apalagi saya tak banyak berpikir saat itu, terlebih untuk sekedar sendal jepit yang tinggal dipakai tanpa harus membeli sendiri, tanpa harus membuat sendiri. Tapi, lama kelamaan, saya mulai melihat ada sebuah perbincangan baru diantara teman-teman. "Eh, tingali, ye, sandal anyar!! Swallow...!!" ("Eh, lihat, ni, sendal baru!! Swallow...!!") "Wah, alus pisan euy!! Menta ah ka Bapa...!!" (Wah, bagus banget! Minta ah sama Bapak!") Waktu itu saya hanya tahu kalau sendal swallow harganya 500 perak, lebih mahal dari sendal yang biasa saya pakai; tak lebih dari 250 perak, terbuat dari busa kualitas dua dengan ikatan dari plastik yang seringkali sakit kalau terkena selangkangan jari jempol kaki dan telunjuk. Harga sendal ini kebetulan saya tahu karena pernah suatu hari diajak belanja perabotan di warung Bu Oto; di hari itu juga saya dibelikan sendal plastik tadi, yang mereknya tak pernah saya hapal, warnanya biru, ukurannya 5. Hari saya setelah perbincangan itu rasanya tak sama lagi. Saya mulai memperhatikan sendal yang dipakai oleh teman-teman. Ada beberapa orang yang memakai Swallow. Ada pula, kebanyakan, yang masih memakai sendal campuran plastik dan busa, sama seperti saya. Jenis sendal lain tak saya hitung, karena terlalu spesifik, tak ada kawannya. Tak hanya memperhatikan, saya pun mulai melihat ada penambahan gengsi dibalik sendal swallow itu. Siapa yang mengenakan sendal swallow, gengsinya akan naik. Tak hanya dikalangan anak-anak, tapi sampai remaja dan bahkan orang tua. Apa iya begitu? Untungnya, orang tua saya tak terpengaruh. Mereka tak memaksa untuk membelikan saya sepasang sendal swallow, hanya agar menaikan gengsi atau tingkat sosial. Untungnya, Papap tak butuh itu. Kalaupun nanti membeli sendal swallow, adalah pada saat keuangan kami cukup untuk menyisihkan 500 perak untuk sebuah sendal sehari-hari yang seringkali rusak dalam waktu cepat. Bukan karena gengsi. Apa masyarakat kita demikian bodohnya hingga berlomba-lomba membeli sendal swallow, hanya agar dipandang di masyarakat? Saya tak memikirkannya saat itu, tentu saja, melainkan beberapa menit yang lalu saat saya membaca artikel mengenai kecelakaan yang terjadi di pertokoan, dalam sebuah eskalator, saat seorang anak nyaris tersedot kakinya gara-gara memakai sendal sepatu Crocs; sendal yang juga dibeli mungkin dengan alasan agar dianggap maju dan modern karena memakai sendal model terbaru meski harus membeli yang palsu atau memaksakan membeli yang asli meski kantong terjepit dan teriak.
Jauh di pertengahan tahun 2005, ada sebuah cerita kelaparan. Lepas dari tugas kedua di Kabupaten Sumbawa dalam rencana perjalanan panjang itu, saya, Mira K dan Pak Aul melanjutkan perjalanan darat menuju Dompu. Di tengah perjalanan itulah, saya merasa lapar. Bekal kacang garing sudah habis. Lagipula sudah lelah gigi ini mematoki bongkahan-bongkahan kacang yang kadang keras tak terkira. Jaraknya tak terlalu bombastis, sebenarnya. Hanya hitungan jam. Tapi, lapar tetap saja lapar. Mau berhenti untuk makan, kami belum berani. Kami harus sampai di Dompu sebelum malam. Kami belum pernah kesana; banyak hal yang harus dilakukan sebelum matahari lari dan menghilang. Saat adzan Ashar terdengar dari kaca mobil yang terbuka, kami saling pandang; seakan saling memberi isyarat kalau kita harus berhenti dulu untuk sholat. Waktu itu, mobil baru saja memasuki daerah Manggelewa, kecamatan di Dompu tak jauh dari perbatasan Sumbawa - Dompu. Kami pun singgah di mesjid ukuran sedang, mengarah ke kecil, yang belum jadi bangunannya. Saya minta Mira K dan Pak Aul sholat lebih dulu. Saya jaga mobil dan kamera, kata saya pada mereka. Mereka sudah tau itu dan langsung bergegas untuk menghilang dibalik dinding mesjid. Jaga kamera dan mobil memang betul. Itu adalah hal yang saya lakukan sore itu. Tapi, sebenarnya ada alasan lain. Saat mobil masuk ke kawasan masjid, saya melihat ada tiga orang anak perempuan dengan aneka jajanan. Ah, makanan!! Benar-benar yang saya butuhkan. Dua bungkus telur puyuh, dua bungkus tahu ( + lontong) dan empat bungkus keripik singkong pun saya beli. Sengaja, saya tak membeli semuanya di satu anak. Saya bagi. Telur puyuh sama anak yang satu. Tahu dan lontong sama anak yang satu lagi. Dan kripik singkong sama anak yang satu lagi. Saya tahu kripik tak menghilangkan lapar, tapi hendak saya beli apa lagi dari anak yang satu? Tiba waktu membayar, saya tergelitik kembali. Mereka saling bantu menghitung. Pernah satu anak salah menghitung, kemudian anak yang lain yang lebih besar bantu menghitungkannya. Saya yang diam di depan mereka hanya bisa mangamati, kemudian menepuk tangan mereka. "Sudah. Tak perlu dikembalikan. Buat kalian saja". Mereka pun tertawa, lantas saya keluarkan kamera dan meminta mereka berpose untuk saya. Semua santapan itu belum habis ketika Pak Aul perlahan terlihat meninggalkan masjid. Saya pun bersiap sholat, sambil berterima kasih pada Tuhan, bahwa sudah ada penyelamat lapar yang Dia berikan pada saya. Perut saya telah segar kembali sore itu, siap untuk mendekatkan diri padaNya lagi.
Pasar Suronegaran, Purworejo. Pagi menjelang siang. Datang di pasar ini, saya tak langsung memotret. Berkenalan dulu dengan beberapa orang penjual sayur, pembeli sayur, kuli panggul dan tukang becak. Pak Sapto ini adalah salah satu diantaranya. Sayang, saya tak banyak mendapat keterangan darinya. Mungkin, saya juga yang telah memilih sejak datang di sana. Saya tak akan banyak bertanya. Entah kenapa, saya hanya ingin memotret. Lebih ingin membuat deduksi dan menebarkan asumsi, pagi itu. Termasuk nama Sapto, yang merupakan asumsi saya saja yang saya lekatkan dari kesan yang saya dapat dari perawakannya; nama aslinya entah siapa. Saya pun mengamati, sambil sesekali memicing mata dibalik lensa. Saya duduk dalam diam dan berdiri, juga dalam diam. Terus sibuk dalam pikiran, mencoba memahami apa yang sedang dia rasakan. Saya seperti tak sanggup berada di posisinya.  Sebagai kuli panggul, adalah pekerjaannya untuk memanggul. Tak peduli berat, atau ringan, semuanya harus dipanggul di atas punggungnya dalam badan yang tertekuk. Lelah, sudah pasti. Bosan, mungkin saja. Penghasilan yang tidak seberapa juga mungkin telah membenamkannya dalam rasa putus asa yang tak tertahankan. Tapi, jujur saja, saya tidak melihat keputusasaan dalam pandangan mata serta bahasa tubuhnya. Semangatnya luar biasa. Lepas dari satu karung, segera menghambur menaikkan karung yang lain di punggungnya. Semangatnya edan! Melebihi semangat orang-orang bergaji tinggi, yang lebih suka menghabiskan waktunya di pusat perbelanjaan untuk memborong DVD bajakan.  Saya tertegun dibalik lensa, seakan terperangkap di dalam lensa, enggan keluar lagi sebagai manusia. Semangat? Dimana semangat saya? Manusia memang tidak hidup untuk uang. Manusia juga sebenarnya tidak bekerja untuk uang. Tapi sayang, sekarang hampir semua hal dihargai dengan uang. Lelaki setengah baya ini mungkin punya keluarga yang harus dihidupinya dengan uang untuk membeli makan, uang untuk sekolah dan uang untuk hal-hal yang lain. Namun, saya sekali lagi yakin, bahwa semangat Bapak ini bukan karena uang, melainkan demi sebuah cinta; pada keluarga dan pada hidupnya. Uang, yang juga tentu dia harapkan, adalah haknya, namun bukan yang terutama. Semoga saja, uang yang diperoleh dari perasan keringat ini bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Melihat dari semangatnya sih, saya yakin, Bapak ini memiliki keyakinan besar bahwa hidup bukan semata kaya atau miskin. Hidup adalah berusaha dan keikhlasan. Hasil adalah hal yang tak perlu muluk ditambatkan dalam hati. Hasil dalam kaitannya dengan materi dan hal-hal duniawi adalah misteri Tuhan. Bisa saja, meski sudah bekerja keras namun hasilnya tidak maksimal. Bisa pula, bekerja seadanya tapi hasilnya maksimal. Hanya saja, sekali lagi itu hanyalah materi semata dan bersifat duniawi. Hasil secara hakiki, pada akhirnya hanya kita yang tahu.  Selamat berjuang, Pak. Saya senang bisa mengabadikan masa-masa emasmu. Apalagi, jepretan itu menorehkan arti yang besar akan arti sebuah semangat dan tak berartinya materialisme.
Saya banyak mengingat adegan dalam film-film Hollywood. Salah satu diantaranya adalah adegan para aktor atau aktris itu saat pergi ke kantor di pagi hari. Biasanya, mereka tinggal di apartemen yang berada di tengah kota. Jarak dari apartemen mereka ke kantor tak terlalu jauh; bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Beberapa adegan memperlihatkan betapa mereka demikian sibuk hingga tak sempat lagi sarapan di apartemen mereka, bahkan untuk sekedar meminum kopi. Akhirnya, dalam perjalanan singkat mereka menuju kantor, mereka biasanya mampir di warung kopi Starbucks. Satu gelas plastik dengan merek yang tak asing lagi itupun tak pelak jadi properti tambahan mereka saat memasuki kantor. Saya juga berjalan kaki setiap hari, saat pergi ke kantor. Tapi, bukan dari rumah, tentu saja. Bukan pula dari apartemen tengah kota, yang jelas-jelas tidak saya punya. Kebetulan, saya parkir mobil agak jauh dari kantor; jauh lebih dekat ke kantor istri saya di Trans TV. Ada banyak alasan yang membuat saya memarkir mobil di sana. Murah, dan mudah dijangkau oleh kedua belah pihak, saya dan istri saya. Pagi ini, saya menemukan ada seorang penjual ubi rebus di dekat jembatan penyebrangan depan kantor Depnaker. Mata saya kontan merangsek masuk ke detail barang jualan lelaki muda itu. Ada ubi rebus, kacang rebus, ketela rebus sampai talas rebus. Saya sudah berjalan dua langkah melewati lelaki muda penjual ubi rebus itu saat kemudian saya memutuskan untuk mengulang rasa di lidah sambil mengenang masa-masa kecil saat kerap memakan ubi rebus. Saya merasa harus membeli ubi rebus itu. Mama dulu sering membuatkannya untuk kami dan saya suka, hingga seringkali ketagihan. Tiga buah ubi rebus ukuran sedang, seharga 2500 rupiah. Tak sempat saya tawar. Rasa nostalgia rupanya mengalahkan segalanya. Penjual ubi rebus seperti ini bukanlah penjual yang umum di kota besar seperti Jakarta. Tak banyak yang bisa saya temui. Hanya sesekali. Hanya segelintir saja. Jalan kaki dari parkiran menuju kantor selalu menyenangkan. Sesekali memang panas dan mengumbar peluh. Tapi seringnya menyenangkan. Banyak cerita yang bisa saya serap ke dalam batin dan mengendap sebagai kesan. Banyak pula waktu bagi saya untuk bisa mencuatkan pikiran-pikiran konyol. Termasuk pagi ini. Entah kenapa, saat satu per satu gigitan pada ubi rebus itu saya nikmati, saya makin teringat adegan-adegan film Hollywood yang kerapkali menunjukkan prosesi seseorang meminum Starbucks saat berjalan kaki menuju kantor. Bedanya, mereka berjalan di Wall Street atau jalanan perkotaan lain yang lebih teratur, rapih dan resik, meski seringkali padat oleh orang-orang yang lalu lalang. Di tangan mereka, segelas Starbucks kerap terlihat sedap saat diseruput dalam hiruk pikuk kesibukan kota. Di sini, saya berjalan di jalan Gatot Subroto yang panas, dan banyak galian (hingga sepatu seringkali kotor oleh tanah), serta polusi dan angkutan umum yang tak tertahankan, hingga tak heran jika tak banyak yang berjalan kaki seperti saya. Di tangan saya, tergenggam tiga buah ubi rebus, yang meski harga dan prestisenya tak semewah Starbucks, tapi kenikmatannya jauh lebih besar. Untuk saya, tentunya.
Menginap di Pelabuhan Sunda Kelapa, dalam truk angkut bahan bangunan, adalah hal yang biasa bagi Rohmin. Istri di rumah yang marah seringkali tidak Rohmin hiraukan. Batin Rohmin yang lelah, seringkali juga dia abaikan. Penghasilan dari pekerjaan ini lebih Rohmin pentingkan. Tak mudah mencari uang di sini, harus ada yang dikorbankan. Ironisnya, juragannya tak mau tahu. Secepatnya, kayu-kayu potongan itu harus segera sampai di toko materialnya. Alhasil, begitu ada informasi bahwa barang itu sudah merapat alias sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, Rohmin pun diutus menjemput kayu-kayu itu. Dengan truk angkut kosong, tentunya. Juragannya tahu, bahwa antrian tak terelakkan lagi di sini. Dia tahu persis bahwa antrian itu tak semata antrian truk, melainkan juga antrian kapal-kapal yang akan bongkar muat. Tapi bisnis adalah masalah waktu. Lebih cepat datang, lebih baik; karena antrian mungkin bisa diperpendek panjangnya. Sayangnya, meski datang menyegera ke pelabuhan, bukan berarti barang bisa segera diambil. Antrian itu panjang sekali. Dan waktu bongkar muat kapal tak bisa dibilang sebentar. Beragam kapal dari beragam daerah pun terpaksa antri dalam jejeran yang panjang. Rohmin dan beberapa juru kemudi lain pun akhirnya harus menghabiskan banyak waktu di pelabuhan. Bisa jadi menginap, bisa jadi tidak. Bisa jadi menginap hanya satu malam, bisa jadi lebih dari satu malam. Parahnya lagi, mereka tak bisa meninggalkan antrian itu, hanya untuk sekedar menengok keluarga mereka di rumah. Antrian mereka bisa diserobot orang. Belum lagi, juragannya pasti akan marah besar. Lantas, apakah juragannya mengerti dan memberikan mereka uang lebih? Seringnya tidak. Seringnya, mereka justru dituding ngobyek, alias melakukan pekerjaan lain dulu dan bukannya menunggu di pelabuhan.
Senin kemarin, saya puasa sunah. puasa senin kamis. Tengah hari, hampir saja puasa itu jebol karena badan yang tidak bisa diajak kompromi. Entah kenapa, badan terasa hambar, tak enak. Seperti dibolak-balik dalam ruang kedap udara hingga kekurangan oksigen. Tapi, saya berkeras; puasa saya harus tuntas hari itu. Tidak ada nazar atau berpuasa karena ada sesuatu yang hendak dicapai. Saya hanya ingin mendekat pada Tuhan. Saya merasakan ada banyak kedamaian saat ibadah dijalankan. Ada doa-doa di situ dan banyak macamnya. Maklum, saya tahu jika saya bukanlah orang dengan penuh kekuasaan. Saya adalah manusia biasa yang kecil sekali di mata Tuhan. Saya berdoa untuk meminta pertolongan, untuk setitik perlindungan. Tak harus segera dikabulkan karena dasarnya saya hanya ingin bercerita pada Tuhan. Seringkali saya tersirat malu, jika harus menjalankan ibadah, terutama sholat, di depan rekan-rekan kerja. Makanya saya sering melarikan diri keluar kantor, hanya untuk menjalankan sholat di tengah-tengah orang yang tidak saya kenal. Saya tak ingin riya. Lebih baik saya sendiri yang tahu seberapa besar keimanan saya, tanpa harus ada embel-embel anggapan orang lain. Kembali pada puasa sunah tadi, jam setengah enam sore saya beringsut ke kantin untuk mencari makanan bukaan. Ice cake dari Abi yang ulang tahun sudah ada untuk pembuka yang manis. Tinggal makan besar yang perlu saya beli. Ibu kantin sontak bertanya, "Kok baru makan, Mas? Dibungkus, lagi?!!" Malu-malu saya jawab. "Puasa, Bu.." "Wah, bagus itu...Bubur kacang ijonya gratis ya dari Ibu?" "Waduh? Makasih banyak, Bu..." "Usaha gak artinya tanpa doa, Mas. Apalah artinya keuntungan seribu dua ribu, kalau gak dibarengin doa. Ibu doain biar puasanya berkah.." "Sama, Bu... Saya doain juga biar usahanya berkah..." Amin....
Ada perbincangan yang ramai informasi pagi ini. Perbincangan itu seputar minyak; mengingat saya sedang membuat program TV tentang minyak dan gas bumi. Menyeramkan, memang. Seperti bukan informasi ringan yang mudah dicerna. Bukan gosip atau isu-isu populer lainnya. Salah satu informasi yang membuat hati tercekat adalah mengenai kandungan minyak sebuah negara. Kandungan minyak bumi di Indonesia ternyata hanyalah 2 persen dari kandungan minyak bumi di dunia. Dari jumlah 2 persen itu, minyak bumi sekarang terus dieksploitasi tanpa henti, seakan menyikapi konsumsi minyak di masyarakat yang tak pernah mau surut; selalu naik seakan tak mau kalah sama bangku sekolah (malu kalau tak naik). Sebuah konsekuensi yang wajar. Untuk apa membeli minyak dari luar negeri jika kita bisa mengambilnya di negeri sendiri. Tapi, lain Indonesia, lain pula negara sebesar Amerika Serikat. Amerika pun punya kandungan minyak bumi yang lumayan besar. Meski begitu, Amerika rupanya tak pernah mengeksploitasi minyak-minyak bumi itu. Amerika memilih untuk mengendapkannya saja di dalam bumi. Amerika malah memilih untuk membeli saja minyak-minyak itu dari luar negeri untuk memenuhi konsumsi minyak dalam negerinya. Kenapa? Selain karena Amerika punya banyak uang untuk melakukan seluruh pembelian itu, ada satu alasan yang patut direnungi. Minyak bumi adalah sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, unrenewable resources. Oleh karenanya, nilai minyak bumi tidak akan pernah berkurang dari waktu ke waktu, korelasinya nanti adalah pada harga jualnya; sama seperti bangku sekolah, malu kalau tinggal kelas atau bahkan turun kelas. Kenapa tidak akan turun? Karena semakin lama, kandungan minyak bumi di dunia akan terus berkurang. Hukum ekonomi mengatakan bahwa saat barang semakin langka, harga jualnya akan semakin naik. Disini gilanya. Amerika sengaja menyimpan minyaknya agar suatu saat nanti ketika minyak bumi sudah menyusut dimana-mana, sudah habis dimana-mana, mereka masih akan memiliki sumber daya minyak yang berlimpah. Berani jual berapa mereka? Tergantung seberapa berani negara-negara pengkonsumsi minyak berani beli berapa. Amerika mungkin berkata seperti ini, "Beli sekarang tak mengapa, mumpung ada duitnya. Tapi lihat nanti. Kalian semua akan membeli minyak dariku."
Sekitar 6 hari yang lalu, seorang teman membuka lagi pikiran saya. Saya mendapat fakta baru yang selama ini tak pernah saya pikirkan. Kamu semua tahu bintang, kan? Itu lho, benda angkasa yang bisa memancarkan sinarnya sendiri, yang kerlap kerlip di langit? Tidak banyak yang tahu kalau setiap kali kita melihat bintang yang ada di langit, kita itu melihat masa lalu. Sebuah kuliah umum Antropologi di Unpad, pernah menelorkan satu pemahaman. Setiap kali bintang memancarkan sinarnya, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai bumi. Ini terutama karena jaraknya yang sangat jauh. Karena alasan itulah, setiap kali kita melihat cahaya bintang, cahaya itu bukanlah cahaya kekinian, melainkan cahaya yang dipancarkan bintang di masa yang lampau. Seberapa lampau? Jika kita tahu jarak persis bintang dari bumi dan kecepatan cahayanya dalam berbagai media atau atmosfir yang berbeda satu sama lain, lengkap dengan koefisiennya, kita mungkin bisa tahu seberapa lampau cahaya bintang itu. Tapi sudahlah. Tak perlu tahu seberapa lampau, saya kira. Saya sudah cukup takjub dengan fakta itu, bahwa kita selalu bisa melihat masa lalu setiap kali menatap bintang. Saya bahkan akan meninjau ulang, memperluas atau bahkan merubah beberapa diksi dalam puisi yang berkaitan dengan bintang. Saya juga mungkin akan banyak memiliki malam-malam yang berbeda, setiap kali ditemani kerlap kerlip bintang itu. Masa lalu ternyata terus mengikuti kita, meski hanya lewat cahaya bintang. Bintang mungkin ingin sekedar mengingatkan bahwa kita ada juga karena masa lalu; bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dari masa lalu tanpa harus larut terus di masa lalu. Biarlah masa lalu menemani kita dengan cahaya dan bukan dengan kegelapan dan sejuta penyesalan.
Nama desa itu memang pernah akrab di telinga saya. Desa Cigumendeng. Tapi jujur saja, saya sempat lupa nama desa ini. Maklum, saya datang ke Desa Cigumendeng ini hampir 6 tahun yang lalu. Rupanya, seiring waktu berjalan, banyak sekali imaji ingatan yang berdesakan di memori saya; berusaha untuk bisa saya ingat. Nama desa ini rupanya kalah, hingga akhirnya saya lupa. Saya hanya bisa mengingat bahwa saya pernah mendatangi dataran Banten dan sekitarnya, namun banyak detail yang terjepit kalah di ujung landasan.
Tapi, lupa itu untungnya tak berlangsung selamanya. Saat saya mendengar nama desa itu lagi, serentak ingatan itu mulai datang kembali. Berebutan, malah, seakan tak mau kalah satu sama lain. Bahkan, bukan hanya itu saja, beberapa lintasan jiwa pun kembali kayuh jalur setapak ke masa 6 tahun yang lalu itu.
Pergi liputan ke Banten dan sekitarnya, hingga masuk ke kawasan bermukimnya suku Baduy Dalam bersama Ade Pepe, adalah tugas luar kota saya yang pertama di Trans TV. Ada kegairahan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada juga kekhawatiran akan mampu atau tidaknya melakukan tugas dengan baik. Meski ada cemas, banyak pula adrenalin bermain di situ, menumpahkan jutaan watt tenaganya hingga lelah seringkali tak terasa. Padahal, waktu itu bulan puasa. Tak makan dan tak minum seakan tak jadi soal. Gairah liputan dan menjelajahi daerah baru melebihi segalanya. Apalagi, Ade Pepe benar-benar teman liputan yang baik. Tak macam-macam, dan tidak usil. Profesional kalau soal pekerjaan meski tetap masih bisa bercanda. Tawa-tawa kami pun akhirnya selalu lepas, tak dibebani apapun juga.
Pagi ini, saya lihat lagi paket tayangan ini, lengkap dengan pemunculan tampang muda saya, lewat kepingan VCD. Nama programnya Jelajah Ramadhan. Pernah tayang di Trans TV, namun saya lupa waktu persis tayangnya. Di paket itu, saya dengar kembali suara saya yang kebetulan juga jadi narator. Saya lihat juga tampang muda saya, yang masih kurus kemana-mana.
Lucu! Tuhan memang selalu punya caraNya sendiri dalam membuat gurauan, yang menggelitik umatNya. Sama seperti yang saya rasakan pagi ini, hingga saya bisa mendapati banyak sekali hal yang sudah saya lakukan, termasuk banyak hal yang belum saya lakukan hanya dalam satu kilasan putaran mata lensa VCD itu.
Bukan semata mengingat nama Desa Cigumendeng, tapi lebih dari itu. Penghargaan atas hidup yang sebenarnya tak pernah tak indah. Patut mengundang sujud syukur di setiap masa.
Waktu saya masih sangat muda, saya suka bertanya-tanya setiap kali ada sebuah berita yang sangat lokal dalam salah satu kolom di surat kabar.
Berita itu biasanya berisi kabar gembira pernikahan dari karyawan surat kabar yang bersangkutan. Foto pasangan yang berbahagia tentu saja tercantum di situ. Atau, ada juga berita duka mengenai kepergian salah satu anggota keluarga dari karyawan surat kabar itu juga.
Berita yang sangat lokal. Dan waktu itu saya hanya sempat berpikir secara sederhana. "Ah, baik juga ya surat kabar ini pada karyawannya....Biarpun sehari-harinya bekerja di balik layar, tampang mereka akhirnya bisa juga masuk koran." Hati langsung panas. "Aku juga pengen fotoku masuk koran!!"
Waktu itu, saya tak sempat berpikir lebih jauh. Namanya juga masih SMP, masih senang bermain kelereng atau bermain bola di lumpur sampai sore. Saya tak sempat berpikir bahwa itu mungkin adalah salah satu bentuk dari penghargaan perusahaan terhadap karyawannya. Saya justru merasa iri pada mereka dan akhirnya jadi pengen juga masuk koran seperti mereka. Maklum, foto kita masuk koran atau tampang kita masuk TV kayaknya jadi hal yang membanggakan di masa itu, dan mungkin juga sampai sekarang. Sama bangganya saya ketika profil Bapak pernah masuk koran Pikiran Rakyat satu kali. Foto Bapak terpampang di situ, ganteng sekali. Potongan koran itu pun akhirnya sempat aku simpan, meski sekarang hilang entah kemana.
Kini, bertahun-tahun kemudian, saya mendapati ada kolom di sebuah majalah, semacam kolom sapaan dari tim redaksi, yang memuat salah seorang yang saya kenal sebagai karyawan majalah yang bersangkutan. Judul artikelnya BOMBASTIS sekali. "Dua Periset Yang Masih Lajang." Judul yang langsung membuat saya ngakak dan akhirnya harus berbagi pada teman saya yang juga mengenal sosok si lelaki "muda" itu. Yanto pun langsung ngakak dan katanya akan segera mengirimkan SMS, untuk menertawai.
Bukan. Saya ataupun Yanto bukan ingin menertawai si lelaki muda itu untuk hal apapun juga, apalagi mengenai statusnya yang memang masih lajang. Kami, terutama saya, hanya merasa lucu bahwa tim redaksi majalah itu merasa perlu meluncurkan tulisan ini. Entah kultur apa yang dibangun di sana. Entah apakah juga ada persetujuan dari orang yang bersangkutan, atau jangan-jangan ini adalah permintaan khusus kedua orang itu?...He...he...he...entahlah.
Tulisan yang cukup menghibur, sebelum saya membuka halaman-halaman berikutnya yang lebih serius, lebih menguras otak.
Saya ingat waktu masih kecil, saya minta dibelikan sepasang sepatu Osaga. Waktu itu, kelas 3 SD, kalau saya tidak salah. Bukan karena saya tak punya sepatu lagi karena sepatu saya rusak atau koyak, melainkan karena teman-teman saya banyak yang pergi ke sekolah dengan memakai sepatu Osaga.
Jiwa kompetisi anak kecil yang tak mau kalah keren itu pun kemudian muncul. Suatu sore, sepulang dari sekolah, saya mengajukan permintaan khusus pembelian sepatu. Khusus, karena saya tahu ini bukanlah saatnya membeli sepatu (lagi). Mama waktu itu tak banyak bicara dan memilih untuk menyerahkan keputusannya pada Bapak. Malam harinya, Bapak mengiyakan permintaan saya. Entah kenapa demikian mudah. Mungkin, Bapak merasa toh ini demi pendidikan saya juga. Jadi, faktor-faktor pendukung agar saya tetap pergi ke sekolah sebaiknya tak dihambat. Mungkin, itulah pemikiran Bapak.
Tak lama, sepatu Osaga itu sudah saya pakai ke sekolah. Dengan gagahnya. Belajar jadi semangat. Belum lagi, saya tak merasa malu lagi berjalan di depan Femi, seorang gadis cilik yang waktu itu sempat saya suka. Saya merasa telah memiliki katalis dalam hari-hari sekolah saya.
Tapi, coba bandingkan dengan anak-anak di Desa Talonang Jaya, Sekongkang, Sumbawa Barat ini. Mereka tetap pergi ke sekolah meski tak memiliki Osaga. Mereka bahkan tak memiliki sepatu sama sekali, yang butut sekalipun. Mereka tetap pergi ke sekolah meski dengan keterbatasan terbesar sekalipun. Tak ada rasa malu dan tak ada rasa iri meski beberapa teman mereka sudah ada yang memakai sepatu. Tak merasa malu mereka meski mereka telanjang kaki.
Alangkah mewahnya masa kecil saya hingga saya bisa mengistimewakan keberadaan sepatu di kaki saya. Alangkah bersahaja dan bermaknanya keseharian anak-anak ini karena mereka banyak melakukan hal-hal yang jujur dan penuh dedikasi, tanpa memikirkan banyak hal remeh temeh seperti egoisme. Mereka juga memiliki egoisme, tapi memilih untuk menyimpannya saja dulu demi hal lain yang lebih penting.
Ayo belajar, tak peduli apa, meski kau tidak memiliki sepatu!
Pemilik kaki ini sepertinya gelisah. Sebentar-sebentar, dia melirik jam tangannya dan melihat keluar kereta. Lelah meneruskan prosesi itu, dia merogoh saku celana jinsnya, dan mengeluarkan sebungkus Dji Sam Soe yang sudah terlihat kumal. Dari dalamnya, dia keluarkan satu batang dan menempelkannya di bibir yang mulai menghitam. Dia pun memilih duduk di pinggiran bangku yang sedikit basah akibat tampias air hujan.
Kereta itu sepi penumpang. Tak berdesakan seperti biasanya. Selain karena bukan jam masuk kerja dan pulang kerja kantoran, kereta ini adalah kereta balik dari Depok menuju Jakarta. Kebanyakan penumpang sudah tersedot habis oleh kereta sebelumnya.
Lelaki ini masih saja gelisah, meski sudah ditemani asap dan nikotin Dji Sam Soe. Matanya tak henti menatap keluar kereta. Kereta yang berjalan pelan, seakan menambah kegelisahannya. Tanpa memahami kegelisahan lelaki ini, kereta itu malah berhenti di pertengahan jalan. Belum lagi sampai di stasiun pasar minggu, kereta berhenti. Lelaki ini kontan beranjak dari duduknya, mendekati pintu dan melihat-lihat keluar kereta.
Saya mencoba meraba-raba apa yang sedang dipikirkannya; apa yang sedang menunggunya di ujung jalan sana. Sesuatu itu nampaknya penting sekali artinya, meski entah apa. Waktu terkadang memang tak bisa dikejar, apalagi di Jakarta. Uang seringkali tak berpengaruh apa-apa. Padahal waktu itu banyak berpengaruh dan memiliki arti penting bagi banyak orang. Apa Jakarta sudah laknat hingga waktu tak lagi bisa diakrabi? Apa Jakarta sudah mati beku hingga waktu tak lagi bisa dikejar?
Untuk apa mengeluarkan uang menembus jalan tol jika di dalamnya hanya menemukan kemacetan?
Untuk apa meniti jalan di rel di atas kereta jika kereta terus berhenti tanpa alasan?
Untuk apa menunggu rentan di ujung peron jika kereta tak juga datang, meski lelah penantian seakan sudah di ujung tanduk?
Lelaki ini mungkin memiliki janji penting, atau mungkin salah seorang keluarganya sedang sakit berat. Waktu demikian berharga baginya. Mungkin, tiket kereta ini adalah satu-satunya jalan bagi dia untuk mengejar waktu. Tapi sayang, waktu memang seringkali tak bisa dikejar di Jakarta.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah diartikan sebagai barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan sebagainya. Bahkan dalam arti yang kedua (sebagai kata kiasan), sampah diartikan hina. Pengertian ini kemudian menjadi pemahaman umum yang beredar di masyarakat. Itu pula yang saya tahu semenjak kecil; sampah harus segera dibuang karena memang tak ada nilainya lagi.
Tapi, perkembangan hidup manusia, terutama manusia kota, membuat sampah kini tak lagi bisa dianggap hina; tak bisa lagi dianggap sepele atau diabaikan. Saat di satu sisi, sampah hadir sebagai masalah besar perkotaan karena jumlahnya yang terus bertambah hingga menjadi elemen pencemaran lingkungan, sampah juga hadir sebagai emas bagi sebagian orang.
Para pemulung sampah di bantar gebang ini, misalnya. Bukan tanpa alasan mereka rela menerjang bau dan menembus gudang penyakit ini. Bagi mereka, sampah adalah sumber penghasilan. Tak tanggung-tanggung, penghasilan mereka bahkan melebihi UMR kota Jakarta. Demikian fantastis. Saya memang selalu bertanya-tanya tentang alasan kenapa orang berani berkutat dengan sampah, bahkan sampai rela meninggalkan kampungnya, meninggalkan anak istri demi mengais sampah. Kini semuanya jelas. Bau sedikit tak mengapa. Sekali-sekali sakit, toh masih bisa diobati. Tempat Pembuangan Akhir di Bantar Gebang ini pun lantas hadir sebagai tambang emas bagi mereka.
Saya jadi ingat belasan tahun yang lalu, saat saya masih SMP. Saya gemar mengumpulkan barang bekas; yang bagi sebagian besar orang sudah bisa dibilang sampah. Saya otak atik, saya padu padankan hingga akhirnya jadi seni instalasi. Saya senang melakukannya. Ada sebuah kepuasan sendiri saat bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah kehilangan kegunaannya. Kesenangan ini berlanjut terus hingga saya kuliah. Jujur, kesenangan ini jadi membantu. Saat saya tak punya tas untuk kuliah, saya cukup mencari karung terigu, dan menjahitnya sendiri jadi tas, sambil saya tempelkan emblem kampus (yang pernah saya banggakan). Saat saya kehilangan semangat belajar, saya sering mencoba-coba lagi membuat seni instalasi dan itu membantu menumbuhkan semangat saya lagi, meski hasil olahannya seringkali tak terpakai. Namanya juga seni; seringkali hanya saya yang mengerti.
Bagi saya, sampah juga menjadi tambang emas. Tidak, saya tidak terjun menerjang bau dan kotor itu di bantar gebang. Saya hanya seringkali memanfaatkannya untuk terapi; atau untuk memuaskan hobi. Sempat terpikir untuk meningkatkannya menjadi sumber penghasilan baru, tapi rasanya belum. Saya belum punya waktu untuk memanfaatkan sampah-sampah itu sebagai sumber penghasilan baru. Tak seperti para pemulung di bantar gebang yang bisa mendapatkan uang sedikitnya 1,5 juta rupiah, bahkan seringkali bisa mendapatkan sampai 3 juta rupiah per bulannya.
Saat itu hujan rintik. Saya menonton hujan itu sambil mengunyah beberapa buah pisang yang sudah matang. Hari itu adalah hari lebaran pertama. Tahunnya saya lupa, mungkin sekitar tahun 2004.
Sekian lama menonton hujan, saya baru teringat bahwa ada kamera digital di tas saya. Seketika itu juga saya masuk ke dalam rumah, merangsek mendekati tas merah butut saya yang hampir koyak resletingnya. Saya sedikit menyesal karena terlupa akan kamera itu. Apalagi jika mengingat banyak sekali yang aku saksikan di bawah hujan rintik yang lewat di teras rumah saudara saya di Lembang, Bandung. Asyiknya menonton hujan memang tak pernah ada habisnya. Sama seperti masa-masa kecil saya yang cukup banyak dihabiskan di ruang tamu rumah masa lalu, yang memiliki jendela besar. Bapak mungkin tak menyangka jika jendela besar di ruang tamu itu kemudian menjadi televisi realiti yang demikian diminati anaknya.
Saya tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan momen yang menarik. Dari kejauhan, terdengar suara yang saling bersahutan dari dua orang berbeda. Dalam Bahasa Sunda, mereka asyik mengomentari hujan yang airnya sesekali mampir di baju dan badan mereka, kurang lebih begitulah yang saya dengar.
Saya sudah pasang posisi. Dalam bayangan saya, kedua orang itu sedang menerjang hujan dengan gagah berani tanpa penutup kepala atau bahkan payung. Ternyata saya salah. Mereka tak menerjang hujan dengan tangan kosong. Keduanya sibuk bersembunyi dibalik payung yang terbuka. Sayangnya, payung itu tak sebesar seharusnya; tak mampu melindungi dua orang dewasa dengan sempurna sekaligus. Mereka harus memilih; satu orang kebasahan sementara yang lain kering atau sama-sama setengah kering dan setengah basah.
Yang lelaki tak tega si perempuan kebasahan. Namun begitu juga sebaliknya. Yang perempuan tak ingin egois dan memanfaatkan payung itu seorang diri. Dia memilih untuk membiarkan rintik-rintik air hujan itu mampir di baju dan pakaiannya.
Saya sungguh senang bisa mengambil gambar ini. Saya senang bisa menangkap romantisme manusia. Saya senang melihat mereka berbagi. Terlihat kecil, memang, tapi sungguh berarti.
Saya menyaksikannya sambil melintas masa lalu; ‘kapan terakhir kali saya berbagi dengan orang lain?’.
Saya tak ingat kapan Mama menyuapi saya seperti ini. Sudah lama sekali dan saya rasa ingatan saya juga tak bisa sejauh itu. Selain karena saya pada dasarnya pelupa, saya juga tak yakin apakah ingatan seorang manusia sebaik itu. Paling-paling, saya masih ingat beberapa adegan di usia sekitar 3 tahunan, tapi di bawah itu, semuanya terlihat samar. Saya akhirnya menganggapnya bukanlah sebagai ingatan melainkan sebagai naluri, sebagai insting.
Saya mungkin tidak ingat kapan saya disuapi oleh Mama, tapi insting saya mengatakan bahwa Mama merawat saya dengan baik di masa-masa awal keberadaan saya. Saya mengetahuinya lewat bahasa tubuh yang tertular demikian dalam pada diri saya. Tak bisa dingat tapi bisa dirasakan.
Seringkali cinta memang tak bisa memilih. Kita dihadapkan pada situasi yang sangat sulit, demikian sulit, hingga kita harus membuat pilihan yang berani. Pilihan berani bisa berarti dikucilkan dari masyarakat atau diusir dari keluarga.
Itu pulalah yang terjadi pada pasangan lesbi atau homoseksual ini. Tidak ada yang menyangka sebelumnya jika kedua teman kami ini akhirnya memutuskan untuk mengumumkan hubungan mereka. Kami sebenarnya tak pernah keberatan, karena toh itu adalah pilihan mereka berdua. Kami hanya berharap mereka menemukan kedamaian dengan pilihan mereka itu.
Tak pernah ada yang salah dengan sebuah pilihan. Kita berharap saja, semua berjalan baik-baik saja. Kami mendukungmu, meski banyak yang bilang bahwa dunia sudah semakin gila, bahwa kalian adalah yang tidak normal.
Saya tegaskan lagi keberadaannya. Lelaki tua itu sejak dulu saya namai Bapak. Saya namai Papap.
Kini, saya tegaskan lagi keberadaannya. Saya namai dia sesuai dengan dia yang sesungguhnya. Sebagai ayah kandung, saya menempatkannya memang sebagai Bapak, bahkan saya menempatkannya lebih dari sekedar Bapak. Lelaki tua ini adalah dewa penyelamat. Lebih dari sekedar Bapak untuk saya.
Semenjak 1996, Bapak jatuh ke dalam lubang penyakit yang berkelanjutan hingga sekarang. Bapak terbelit ganasnya Sindrom Parkinson. Melumpuh. Parkinson telah menghilangkan sebagian jati dirinya, terutama dalam ingatan dan kemampuan untuk mengendalikan otaknya, bahkan untuk gerakan paling sederhana sekalipun. Tahun 2000, dia bahkan pernah menepiskan ingatan bahwa Mama adalah istri tercintanya, dan Neng Lia adalah anak pertamanya. Saat itu, yang dia ingat hanya saya, anak lelaki yang merantau dan jarang kembali; terlalu nakal dan terlalu tak mau diatur. Saat itu, 7 tahun yang lalu, saya sempat heran. Anak lelaki yang sudah jarang dilihatnya di rumah, yang sudah berlari dari rumah, yang seringkali marah karena semakin buas oleh mimpi di ibukota, malah diingatnya dengan jelas. Sementara Mama, yang setiap hari mengurusnya, sempat dibilang sebagai orang asing yang tidak dia kenal.
Pertengahan 2006 lalu, saya memiliki kesempatan untuk banyak berbincang dengan Bapak. Sangat menyentuh. Membuat saya merasa bahwa inilah saatnya. Saatnya saya kembali ke rumah. Bukan secara fisik, tapi lebih kepada hati dan pemikiran.
Salah satu hal yang saya syukuri saat bepergian ke luar kota atau ke tempat-tempat baru adalah adanya kesempatan untuk melihat matahari terbenam. Senja. Seperti senja di Mojokerto ini.
Dimanapun selalu indah, terutama di pesisir pantai.
Saya selalu takjub dengan matahari yang mulai menyipit dan banyak menghujamkan warna-warna jingga yang menawan. Saya selalu terpesona dengan bulatnya matahari jingga yang perlahan menghilang; kadang dibalik bukit, kadang di ujung lautan lepas dan kadang dibalik gedung-gedung tinggi.
Tapi, entah kenapa, saya juga selalu sedih di saat senja, terutama jika senja itu saya tatap di tepi lautan, di pesisir pantai. Mungkin saja, perasaan itu terpicu dari sebuah kesedihan yang luar biasa 10 tahun yang lalu, di dermaga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Di tahun itulah, Bapak memulai drama kehidupan tak berdayanya dan memulai pula rentetan kesedihan saya hingga sekarang.
Di tahun itu, Bapak jatuh dari kamar mandi dan penyakit sindrom parkinsonnya terpicu hingga Bapak tak tegap lagi. Bapak setengah lumpuh, hingga berbicara pun sulit dan tak bisa lagi berjalan layaknya biasa; terbata-bata. Tatapannya pun ikut tergerus, menua sebelum waktunya. Tak ada lagi semangat.
Saat saya dan teman-teman berkesempatan pergi lagi ke Pulau Tidung, hal pertama yang saya ingat ketika kami duduk-duduk di dermaga itu adalah Bapak. Salah satu hobby Bapak sebelum kejatuhannya adalah memancing di laut. Bapak pernah membawa pulang ikan hiu kecil, ikan pari, salmon dan banyak lagi yang lain. Bapak seringkali cerita mengenai asyiknya memancing di laut. Saya pernah punya keinginan untuk ikut memancing bersama Bapak di laut; tak pernah kesampaian hingga sekarang. Bapak keburu sakit dan hanya bisa tergolek lemah di atas tempat tidur sampai sekarang.
Saat matahari terbenam itu, saya memang ingat Bapak. Teman-teman memang tak menyaksikan saya menangis, tapi saya tahu bahwa saya menangis; sangat sedih sekali. Saat itu dan bahkan saat saya menuliskan ini.
| |