Ada beberapa kemewahan yang hilang dalam diri saya ketika saya mulai pergi dan pulang kantor di temani B 1111 OX. Baik di balik kemudi, maupun duduk santai di samping istri yang sibuk memelototi jalan.
Kemewahan itu adalah menonton jalan dengan santai sambil memainkan banyak skenario di dalam kepala.
Kemewahan itu adalah menunggu angkutan umum di pinggir jalan, sambil mengajak ngobrol perasaan yang seringkali tidak menentu, entah karena kesal bis tak kunjung datang atau karena cuaca yang tidak bersahabat. Mengajak kompromi dengan perasaan dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kemewahan itu adalah kesempatan berbagi satu ruang kecil dalam angkutan umum dengan banyak orang berbeda setiap harinya. Tidak saya sangka, saya dulu sangat beruntung karena bisa berkenalan dengan mereka semua, meski tak sempat mengetahui lebih banyak daripada sekedar tampakan nyata mereka yang munculkan kesan di mata batin saya. Tak ada nama-nama yang aku dapat, apalagi tempat dimana mereka tinggal atau beraktifitas. (kalaupun ada, hanya beberapa orang saja)
Banyak orang yang merasa beruntung karena sudah bisa membeli kendaraannya sendiri, baik motor maupun mobil. Saya pun termasuk salah satu diantaranya. Tapi, saya baru menyadari sekarang bahwa dibalik kemewahan itu, ada kemewahan lain yang terpaksa hilang atau sulit dijumpai lagi.
Mungkin saya berlebihan. Tapi saya rasa, memiliki kendaraan pribadi mengerucutkan dunia saya menjadi dunia individualistis. Dunia privasi, yang seringkali menjadi standar kemewahan bagi hampir semua orang. Saya menikmati privasi itu, hidup dalam jajaran individualitas itu. Tapi, saya mencoba menyeimbangkannya dengan kemewahan saya yang lain; berbagi keringat dan juangan emosi bersama banyak orang lain yang memilih berkendara umum kemanapun mereka pergi, baik karena terpaksa atau memilih dengan sadar.
Makanya, saya sesekali pergi atau pulang dari kantor seorang diri, menggunakan angkutan umum daripada pergi bersama istri saya dalam lingkupan mobil kesayangan yang sejuk dan nyaman. Tidak alasan lain, selain karena tak ingin kehilangan kemewahan yang saya yakin bisa mempertahankan rasa tenggang rasa saya, yang suatu hari bisa menyelamatkan saya dari kesombongan dan lupa diri. Kebetulan, ada kalanya saya dan istri harus pergi atau pulang di saat yang tidak bersamaan.
 | syukurlah saya masih bisa berbagi kemewahan bersama banyak orang dalam kereta api yang saya tumpangi nyaris setiap hari. Saya masih bisa berkhayal di jalanan, masih bisa berkontemplasi ditengah desak-desakan, masih bisa berdialog seru sambil tetap menuju tujuan.
jadi dank, yang dirindukan kemewahan bersosialisasi justru kemewahan atas kesendirian? rindukah pada masa lalu, atau rindu pada bayangannya? |
 | Setuju dank.. jakarta dan indonesia tak pernah membosankan. Rutinitas lah yang selalu membosankan, walau mungkin baik untuk kita. |
 | untunglah kemewahan itu kadang-kadang masih menghampiri diriku kalo gak dijemput suami...apalagi kalo kemewahan itu termasuk 'tidur-tidur ayam' ...hehehe... |
 | phuuff... sesak ... tp bener.. suatu saat saya akan merindukan saat-saat pulang kantor bersesakan di bis kota... huhehehe.... |
 | Santai..
I also lived in two world. Tiga malah..
Satu saat kalau perlu banyak meeting ya pake mobil. Dua, saat harus menembus daerah Sudirman-Thamrin untuk mengajar di pagi hari, ada yang namanya busway, dinamikanya tersendiri. Tiga, saat hari sedang terasa longgar, ada sepeda yang bisa digowes ke mana-mana. Dalam seminggu rotasi ketiga alat angkut ini berjalan dengan rata. Bensin irit lagi, sebulan bisa cuma habis 'ratusan' ribu rupiah (masih banyak juga? daripada harus jutaan? seperti banyak orang)
Jadi kehidupan ini terasa seimbang, yang masing-masing bisa dipakai untuk belajar dan menikmati dinamikanya. |
 | inilah yang saya sebut prinsip 'low maintenance' ;p |
 | ya, betul. meski gak punya mobil, aku juga kehilangan "kemewahan" tsb. sejak "ngojek" atau naik sepeda, uang recehan lebih srg utuh. dulu kan suka nyisihan buat pengamen ato anak jalanan. bersyukur emang kuncinya, dlm kondisi lapang, dan bersabar dlm kondisi sulit. |
| |