Seorang kawan di lantai 5 kerap menyebut bakal anaknya "Langit". Mungkin dia nanti akan membagi alasan kenapa julukan atau nama itu keluar.
Saya, selalu punya ikatan dengan langit. Dimanapun dan kapanpun.
Bukan. Saya bukan Superman yang jika patah hati langsung terbang ke langit dan menangis di sana sambil melihat bumi dari ketinggian ratusan ribu kaki. (mungkin membayangkan Lois Lane lagi ngapain di bawah sana). Saya juga bukan pilot pesawat terbang yang mungkin tiap hari harus bertegur sapa dengan langit. Saya adalah saya, lelaki daratan yang kerap merindukan langit.
Saya selalu punya ikatan dengan langit. Dalam situasi apapun dan dalam kesempatan apapun.
Selalu ada rindu untuk keluar dari pikuk ruangan kerja yang kubikal, meski sekedar untuk menyaksikan bis-bis tanggung metromini meraung-raung dan menjajal jalanan dengan sembrono. Selalu ada keinginan menemani turunnya matahari dalam situasi apapun, terutama saat senja itu melukis langit dengan indah. Selalu dan selalu.
Dulu sekali, sebelum saya memilih kehidupan yang terpola dari pagi hingga sore bahkan malam, saya selalu menemukan kenyamanan memandang langit sambil bercerita panjang lebar tanpa harus berbicara nyaring di setiap pagi dan di setiap senja. Ada titik rindu untuk menempuhi titik-titik hari itu lagi. Mungkin nanti, saat saya berani untuk melepaskan pola hidup yang masih harus saya pertahankan untuk mengisi buku tabungan setiap bulannya.