Ini lagi-lagi cerita kecil dari masa kecil. Cerita mengenai sendal jepit, yang seringkali dilempar kalau ada perkelahian rumah tangga atau seringkali hilang di depan mesjid dan musholla.
Mungkin ada yang ingat, kapan munculnya sendal jepit Swallow untuk pertama kali. Saya sendiri tak ingat persis kapan sendal jepit merek ini muncul. Yang saya ingat justru kemunculan Swallow di tengah-tengah masa main-main saya bersama teman-teman kecil yang masih kecil, dengan perabotan tubuh yang juga ikutan masih kecil.
Mengejutkan sih tidak. Cenderung biasa saja. Apalagi saya tak banyak berpikir saat itu, terlebih untuk sekedar sendal jepit yang tinggal dipakai tanpa harus membeli sendiri, tanpa harus membuat sendiri.
Tapi, lama kelamaan, saya mulai melihat ada sebuah perbincangan baru diantara teman-teman.
"Eh, tingali, ye, sandal anyar!! Swallow...!!" ("Eh, lihat, ni, sendal baru!! Swallow...!!")
"Wah, alus pisan euy!! Menta ah ka Bapa...!!" (Wah, bagus banget! Minta ah sama Bapak!")
Waktu itu saya hanya tahu kalau sendal swallow harganya 500 perak, lebih mahal dari sendal yang biasa saya pakai; tak lebih dari 250 perak, terbuat dari busa kualitas dua dengan ikatan dari plastik yang seringkali sakit kalau terkena selangkangan jari jempol kaki dan telunjuk. Harga sendal ini kebetulan saya tahu karena pernah suatu hari diajak belanja perabotan di warung Bu Oto; di hari itu juga saya dibelikan sendal plastik tadi, yang mereknya tak pernah saya hapal, warnanya biru, ukurannya 5.
Hari saya setelah perbincangan itu rasanya tak sama lagi. Saya mulai memperhatikan sendal yang dipakai oleh teman-teman. Ada beberapa orang yang memakai Swallow. Ada pula, kebanyakan, yang masih memakai sendal campuran plastik dan busa, sama seperti saya. Jenis sendal lain tak saya hitung, karena terlalu spesifik, tak ada kawannya.
Tak hanya memperhatikan, saya pun mulai melihat ada penambahan gengsi dibalik sendal swallow itu. Siapa yang mengenakan sendal swallow, gengsinya akan naik. Tak hanya dikalangan anak-anak, tapi sampai remaja dan bahkan orang tua. Apa iya begitu?
Untungnya, orang tua saya tak terpengaruh. Mereka tak memaksa untuk membelikan saya sepasang sendal swallow, hanya agar menaikan gengsi atau tingkat sosial. Untungnya, Papap tak butuh itu. Kalaupun nanti membeli sendal swallow, adalah pada saat keuangan kami cukup untuk menyisihkan 500 perak untuk sebuah sendal sehari-hari yang seringkali rusak dalam waktu cepat. Bukan karena gengsi.
Apa masyarakat kita demikian bodohnya hingga berlomba-lomba membeli sendal swallow, hanya agar dipandang di masyarakat? Saya tak memikirkannya saat itu, tentu saja, melainkan beberapa menit yang lalu saat saya membaca artikel mengenai kecelakaan yang terjadi di pertokoan, dalam sebuah eskalator, saat seorang anak nyaris tersedot kakinya gara-gara memakai sendal sepatu Crocs; sendal yang juga dibeli mungkin dengan alasan agar dianggap maju dan modern karena memakai sendal model terbaru meski harus membeli yang palsu atau memaksakan membeli yang asli meski kantong terjepit dan teriak.