Blog EntryAmerika Tak Pernah Gali MinyaknyaMay 22, '07 3:12 AM
for everyone

Ada perbincangan yang ramai informasi pagi ini. Perbincangan itu seputar minyak; mengingat saya sedang membuat program TV tentang minyak dan gas bumi. Menyeramkan, memang. Seperti bukan informasi ringan yang mudah dicerna. Bukan gosip atau isu-isu populer lainnya.

Salah satu informasi yang membuat hati tercekat adalah mengenai kandungan minyak sebuah negara. Kandungan minyak bumi di Indonesia ternyata hanyalah 2 persen dari kandungan minyak bumi di dunia. Dari jumlah 2 persen itu, minyak bumi sekarang terus dieksploitasi tanpa henti, seakan menyikapi konsumsi minyak di masyarakat yang tak pernah mau surut; selalu naik seakan tak mau kalah sama bangku sekolah (malu kalau tak naik). Sebuah konsekuensi yang wajar. Untuk apa membeli minyak dari luar negeri jika kita bisa mengambilnya di negeri sendiri.

Tapi, lain Indonesia, lain pula negara sebesar Amerika Serikat. Amerika pun punya kandungan minyak bumi yang lumayan besar. Meski begitu, Amerika rupanya tak pernah mengeksploitasi minyak-minyak bumi itu. Amerika memilih untuk mengendapkannya saja di dalam bumi. Amerika malah memilih untuk membeli saja minyak-minyak itu dari luar negeri untuk memenuhi konsumsi minyak dalam negerinya.

Kenapa?

Selain karena Amerika punya banyak uang untuk melakukan seluruh pembelian itu, ada satu alasan yang patut direnungi.

Minyak bumi adalah sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, unrenewable resources. Oleh karenanya, nilai minyak bumi tidak akan pernah berkurang dari waktu ke waktu, korelasinya nanti adalah pada harga jualnya; sama seperti bangku sekolah, malu kalau tinggal kelas atau bahkan turun kelas. Kenapa tidak akan turun? Karena semakin lama, kandungan minyak bumi di dunia akan terus berkurang. Hukum ekonomi mengatakan bahwa saat barang semakin langka, harga jualnya akan semakin naik.

Disini gilanya. Amerika sengaja menyimpan minyaknya agar suatu saat nanti ketika minyak bumi sudah menyusut dimana-mana, sudah habis dimana-mana, mereka masih akan memiliki sumber daya minyak yang berlimpah. Berani jual berapa mereka? Tergantung seberapa berani negara-negara pengkonsumsi minyak berani beli berapa.

Amerika mungkin berkata seperti ini, "Beli sekarang tak mengapa, mumpung ada duitnya. Tapi lihat nanti. Kalian semua akan membeli minyak dariku."

 


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
erikar wrote on May 22, '07
Amerika mungkin berkata seperti ini, "Beli sekarang tak mengapa, mumpung ada duitnya. Tapi lihat nanti. Kalian semua akan membeli minyak dariku."
Biarin!

Ntar kita udah nemu bahan bakar alternatip sendiri.. Jadi minyaknya mereka gak laku!
dhankari wrote on May 22, '07
erikar said
Ntar kita udah nemu bahan bakar alternatip sendiri
Kandungan panas bumi di Indonesia itu padahal 40 persen kandungan panas bumi dunia. Andai saja, kita udah bisa memanfaatkan itu, mungkin kita gak perlu khawatir. Selandia Baru aja udah mulai kok memaksimalkan kandungan panas buminya....

btw, kok jadi sewot gitu...he..he...
sabar, ya...
ariefadiwibowo wrote on May 22, '07, edited on May 22, '07
Posting menarik, Dhank. Sebenarnya bukan permasalahan "nantinya kalian akan membeli padaku". Lebih dari itu, kebijakan Amrik terkait energi lebih pada melindungi kepentingan Amerika jangka panjang. Dan itu juga menjadi kebijakan China sekarang. Booming China yang menyerap energi dalam jumlah yang luar biasa, dipenuhi lewat impor dari negara lain termasuk batubara kita. Selama energi alternatif yang murah dan mudah belum bisa dicari jalan keluarnya, energi fosil memang punya arti strategis bagi mesin industri mereka.

Jadi sebenarnya pilihan rasional kok, dan kita justru harus mencermatinya dengan rasional pula. Kebiasaan kita yang terlalu emosional dan irasional harus ditinggalkan. Contohnya, adalah waktu kita gali habis-habisan batubara di kalimantan. Otoda kebablasan, semua kepala daerah terbitin izin gali, akhirnya pasar batubara "banjir bandang"....dan ujungnya harga jatuh, negara lain senang, sementara kita menanggung biaya lingkungan yang tidak kecil.

Kembali ke Amerika dan pilihan rasionalnya tadi. Bila mereka bisa memastikan mesin industri mereka bisa menghasilkan produk dengan nilai tambah berlipat, ngapain repot eksplorasi sumber daya alam yang nota bene adalah produk dengan nilai tambah terendah?
ariefadiwibowo wrote on May 22, '07
Kandungan panas bumi di Indonesia itu padahal 40 persen kandungan panas bumi dunia. Andai saja, kita udah bisa memanfaatkan itu, mungkin kita gak perlu khawatir. Selandia Baru aja udah mulai kok memaksimalkan kandungan panas buminya....

btw, kok jadi sewot gitu...he..he...
sabar, ya...
Panas bumi sangat menarik. Tapi tetap saja energi yang terbatas, plus banyak problem yang menanti untuk dipecahkan bila digunakan secara masal seperti dalam transportasi. Harusnya pemerintah menyisihkan anggaran mereka untuk riset secara serius. Ngomongin ini rada repot juga karena kualitas riset kita sudah jauh tertinggal, plus duitnya ada enggak yah???
dhankari wrote on May 23, '07
Lebih dari itu, kebijakan Amrik terkait energi lebih pada melindungi kepentingan Amerika jangka panjang.
Setuju untuk masalah ini, Pa'De. Masalahnya, gue cuman kesel karena kalau Amerika bisa punya kebijakan seperti itu, kenapa kita enggak? Memang, Amerika punya banyak duit sehingga leluasa banget membuat kebijakan full impor BBM, apalagi produk mereka memang sepertinya sudah punya nama banget. Mau dijual dengan harga berlipat-lipatpun konsumen akan tetap beli!! Ironis juga sebenarnya, karena beberapa produknya dibuat dengan eksploitasi buruh murah di Indonesia.

Tapi, kenapa juga China bisa? China kan juga belum terlalu kaya deh...belum sekaya Indonesia. Kalau gue lihat sih, China punya strategi yang lebih well planned. Artinya, semuanya itu sudah dipertimbangkan matang-matang, termasuk resikonya. Dan China siap untuk menerima resiko terburuk sekalipun...

Kita? Apa kita siap ambil resiko? Lantas, apa pemerintah mau membuat kebijakan dan strategi yang demi negara, dan bukan demi kantong mereka sendiri, apalagi ini adalah strategi jangka panjang dimana para pembuat kebijakan mungkin sudah jadi fosil?

Rumit.
fannyfauzia wrote on May 23, '07, edited on May 23, '07
Topik yang menarik. Cuma sedikit rancu soal kata "tak pernah" . Setahu saya mereka mengeksploitasi cadangan mereka. Berapa volume yang mereka eksploitasi terus terang saya tidak punya data validnya. Sebagai gambaran, paling tidak company tempat saya bekerja memiliki base yang cukup besar di US. Dan bukan base hanya sebagai "Head Quarter atau Office belaka". Tapi "Operation Base" yang tentunya menyediakan jasa ke client disana. Beberapa teman jelas melakukan pekerjaan eksplorasi di seputaran US Land.

Anyway, negara2 yang saat ini menjadi produsen minyak besar dunia, memang berada dalam kondisi harus mengeksploitasi cadangan mereka. Kalau tidak, mau darimana lagi mereka berharap devisa untuk menghidupi rakyatnya. Mungkinkah negara2 Middle East berharap dari agroindustri? Hal ini Terlepas dari Amerika berperan serta atau berusaha menciptakan kondisi ini.
dhankari wrote on May 23, '07
Tapi tetap saja energi yang terbatas, plus banyak problem yang menanti untuk dipecahkan bila digunakan secara masal seperti dalam transportasi
Panas bumi masih tergolong renewable, bro, alias bisa diperbaharui. Jadi bisa dibilang tidak terbatas. Yang dimanfaatkankan uapnya, bukan panas buminya. Jadi teknis injeksi air ke dalam panas bumi membuat panas bumi jadi energi yang tidak terbatas.

Kalau masalah problem, pasti ada problem. Dan memang harus dipecahkan. Tapi mari kita contoh China. Kenapa mereka bisa buat motor, mobil, elektronik dan semuanya. China bahkan bisa membuat teknologi perminyakannya sendiri?

China sebenarnya sama dengan kita, tak punya banyak uang dan waktu untuk melakukan riset secara serius. Lagipula, jika kita baru memulai riset sekarang sementara negara-negara maju itu sudah jauh lebih lama, maka akan sulit mengejar ketertinggalan itu. Untuk memotong jalur itu, China memilih untuk mengkopi BLUE PRINTnya saja. Dan itu berhasil. Bukan hal yang haram untuk China melakukan itu. Dibilang peniru, tak apa. Dibilang pencuri, juga mungkin tak apa. Kebayang kan, mereka beli seperangkat lengkap alat pengeboran minyak, terus dipretelin satu-satu dan dibuat blue print-nya.
Dampak langsungnya, mereka memotong dana riset dan langsung membuat alat-alat itu. Jadinya, ya murah... Tidak ada cost recovery-nya...he....he...he...

Tak boleh selamanya memang seperti ini, tapi at least untuk langkah awal, kenapa tidak?
dhankari wrote on May 23, '07
Tapi "Operation Base" yang tentunya menyediakan jasa ke client disana. Beberapa teman jelas melakukan pekerjaan eksplorasi di seputaran US Land.
Thanks buat masukannya, Fan. Anyway, apa benar eksploitasi itu dilakukan atas dasar kebutuhan konsumen? Atau sekedar politis?

Sebelum Amerika banyak menemukan ladang minyak di dunia yang bisa mereka eksploitasi, Amerika memang melakukan eksploitasi di negaranya. Jelas, karena toh mereka juga butuh energi. Kalau volume minyak di pasar luar masih minim dan harus bersaing harga, mereka akan memilih untuk mengeruk sendiri minyaknya. Tapi ketika volume minyak di luar Amerika banyak dan Amerika bisa membeli dengan leluasa plus dengan harga murah, kenapa tidak Amerika merubah kebijakannya; stop produksi dan mulai membeli.

Apa ladang minyak yang temen-temen Fanny eksploitasi itu adalah ladang lama atau ladang baru? Kalau ladang lama, maka besar kemungkinan eksploitasi itu beralasan politis. Besar kemungkinan juga, POD yang mereka bikin bukanlah mengejar keuntungan, melainkan hanya mengejar biaya produksi. Break Even. Pemerintah tentu mendukung itu, jika itu memang adalah strateginya.

dhankari wrote on May 23, '07
Anyway, negara2 yang saat ini menjadi produsen minyak besar dunia, memang berada dalam kondisi harus mengeksploitasi cadangan mereka. Kalau tidak, mau darimana lagi mereka berharap devisa untuk menghidupi rakyatnya.
Devisa, ya. Tak terbantahkan. Ada pepatah konyol yang bunyinya, "Siapa suruh miskin!!!!?".

Tapi, sudah saatnya negara-negara miskin tapi kaya minyak ini mulai berpikir. Di Indonesia sendiri, minyak semakin lama semakin turun kontribusinya terhadap devisa, meskipun memang masih cukup besar. Masih banyak sumber energi yang bisa dimanfaatkan, dan masih banyak sektor lain yang bisa digalakkan untuk meningkatkan devisa. Memang berat, seperti misalnya menggalakan agroindustri untuk bisa menyokong devisa besar, tapi apa kemudian kita tidak mengutamakan itu, apalagi Indonesia adalah negara agraris? (begitu yang dulu sering diajarkan di sekolah, Indonesia adalah negara agraris). Biarlah minyak itu dari kita dan untuk kita, karena tak bijak jika hanya memikirkan saat ini tanpa mempertimbangkan masa depan, meskipun mungkin bukan jamannya kita lagi. Budi Rahardjo dari ITB menggagas BHTV (Bandung High Tech Valley) bukan tanpa alasan yang kuat. Budi pengen Indonesia lepas dari hutang dan mulai bisa mendapatkan devisa dari hal-hal lain di luar sumber daya alam. Tak tanggung-tanggung, Budi pengen Indonesia mulai menjual "otaknya" dalam perwujudannya di dunia teknologi dan komputer. Targetnya 2010 nanti, kondisi itu sudah tercapai. Belum tentu berhasil, memang. Tapi langkah-langkah seperti ini yang patut terus dipahami sebagai geliat bangsa menuju kehidupan yang lebih baik, bukan lagi dijajah secara ekonomi dan politik.

Kalau gue boleh usul, jangan bangga sebagai negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Kenapa, karena minyak adalah sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Itu sama saja dengan menjual kekayaan, yang analoginya bisa dilihat pada orang-orang yang bangkrut, kehabisan duit, tak punya pekerjaan lagi terus kemudian menjual satu demi satu barang-barang berharganya. Banggalah bila bisa mengekspor sesuatu yang sifatnya berkelanjutan dan tidak akan habis suatu saat nanti. Ekspor beras, misalnya. Ekspor tekstil, ekspor alat-alat atau teknologi, dll.
fannyfauzia wrote on May 23, '07
Nah kan jadi seru. Btw, kalau kamu memotong opini saya seperti diatas (fyi opini saya masih berada dalam satu paragraf yang tersambung dan jelas antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya saling berkaitan....:), maka saya sepakat dengan opini kamu 100%. Opini kamu jelas memiliki daya aplikasi yang tinggi untuk negara seperti Indonesia. Itulah kenapa saya tidak menyebutkan Indonesia sebagai contohnya. Saya jelas menyebut negara-negara Middle East sebagai contoh saya, dimana mereka memang "tidak seberuntung" negara kita dalam hal keberagaman sumber daya alam.

Dan opini saya, sama sekali tidak berkonotasi "Bangga". "Berada dalam kondisi harus mengeksploitasi" , dalam kalimat ini saya berusaha memperlihatkan "keterpaksaan". Mereka terpaksa mengeksploitasi either hanya itu sumber daya yang mereka punya atau sampai saat ini baru sumber daya tersebut yang bisa mereka manfaatkan.

dhankari wrote on May 23, '07
Dan opini saya, sama sekali tidak berkonotasi "Bangga". "Berada dalam kondisi harus mengeksploitasi" , dalam kalimat ini saya berusaha memperlihatkan "keterpaksaan". Mereka terpaksa mengeksploitasi either hanya itu sumber daya yang mereka punya atau sampai saat ini baru sumber daya tersebut yang bisa mereka manfaatkan.
Ya. Setuju. Sebenarnya, gue hanya memberikan sebuah kondisi dan tidak menanggapi kalimat "Berada....bla..bla..bla..." itu. Memang kebetulan ada dalam satu reply yang kesannya berhubungan langsung dengan kalimat itu.

Gue sangat khawatir soalnya dengan persepsi masyarakat kita yang seringkali salah dalam menempatkan emosi mereka, termasuk perasaan bangga itu. Sialnya lagi, itu seringkali dipopulerkan oleh banyak public figure, sehingga kesannya untuk masyarakat ya itulah yang benar.
bhooly wrote on May 23, '07
China sebenarnya sama dengan kita, tak punya banyak uang dan waktu untuk melakukan riset secara serius.

Well, China itu tajir banget, Ri. Di CIA Factbook aja GDP dia 2.512 triliun dolar, surplus dagang dia dengan US amit-amit gedenya dan bikin Amerika kebakaran jenggot nuntut yang ajaib-ajaib. Menurut gue, China kurang political will ngkali ya untuk serius soal energi. Ah, tapi itu dugaan gue doang.
Amerika ngga ngegali minyak sendiri juga mungkin karena tidak cukup menarik secara ekonomi. Harga lingkungan dan harga sumber daya manusianya tidak sekompetitif kalo beli (impor).
Ya gue sih berharap aja energi alternatif sudah ada tanpa tergantung dari fossil fuels, atau gue udah keburu minggat dari dunia when fossil fuels really gone...
dhankari wrote on May 23, '07
bhooly said
Well, China itu tajir banget, Ri. Di CIA Factbook aja GDP dia 2.512 triliun dolar, surplus dagang dia dengan US amit-amit gedenya dan bikin Amerika kebakaran jenggot nuntut yang ajaib-ajaib.
Setuju dengan kekayaan negaranya. Makanya, seperti kata Pa'De, China juga sudah mengikuti jejaknya Amerika, membeli apa yang bisa dibeli. Wong, mereka uangnya banyak kok.

Yang dimaksud tak ada uang di sini, sesuai dengan konteks kalimatnya, "tak punya banyak uang dan waktu untuk melakukan riset secara serius", adalah tidak ada keinginan atau kebijakan atau seperti mbak Ria bilang, political will untuk melakukan riset itu. Karena memang toh percuma! Wong sudah tertinggal. Lebih baik ambil short cut sambil persiapan untuk tahap berikutnya, dimana riset harus dilakukan dan didanai serius untuk menang dalam persaingan dengan negara lain. Untuk teknologi yang sudah tertinggal, seperti tak ada guna mengejar dari titik awal, yaitu riset, makanya mereka mengejar dari titik pertengahan; ya short cut itu tadi.

So, ayo kita tiru...tak ada waktu dan uang untuk riset bukan berarti tak ada uang dan waktu untuk mengcopy, kan? Cost recoverynya relatif kecil kok....daripada diam saja melihat mereka bersaing sementara kita sok kaya dengan hanya membeli teknologi mereka tanpa berniat untuk mempelajarinya.

Mobil Nasional? Tommy dengan Timornya dan Bambang dengan Bimantaranya sudah ngambil jalur short cut itu sebenarnya. Tapi entah kenapa terganjal juga. Dugaan gue sih karena 1. Teknologi yang diadaptasi tanggung, tidak ke yang paling super. 2. Masyarakat masih memegang gengsi yang besar, sok kaya, sehingga tidak cinta produk dalam negeri. 3. Tidak ada program lanjutannya dan berhenti di titik mengcopy saja....he....he...

Kok jadi ngelantur kemana-mana, ya?....

Ah, sudahlah....rumit!!...he...he...

thanks temen-temen atas tanggapannya...
kalau masih ada tanggapan silahkan...
nyanalubis wrote on May 23, '07
Jadi gimana nasib host kitaaaa????
nenglita wrote on May 24, '07
migas, oh migas...
program berat tapi aku mencintainya......
hikshikshiks...
jengpipit wrote on May 25, '07
Coba deh baca The Prize - Daniel Yergin. Bagus buat referensi;)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help