Blog EntrySuatu hari di CigumendengMay 15, '07 1:56 AM
for everyone

Nama desa itu memang pernah akrab di telinga saya. Desa Cigumendeng. Tapi jujur saja, saya sempat lupa nama desa ini. Maklum, saya datang ke Desa Cigumendeng ini hampir 6 tahun yang lalu. Rupanya, seiring waktu berjalan, banyak sekali imaji ingatan yang berdesakan di memori saya; berusaha untuk bisa saya ingat. Nama desa ini rupanya kalah, hingga akhirnya saya lupa. Saya hanya bisa mengingat bahwa saya pernah mendatangi dataran Banten dan sekitarnya, namun banyak detail yang terjepit kalah di ujung landasan.

Tapi, lupa itu untungnya tak berlangsung selamanya. Saat saya mendengar nama desa itu lagi, serentak ingatan itu mulai datang kembali. Berebutan, malah, seakan tak mau kalah satu sama lain. Bahkan, bukan hanya itu saja, beberapa lintasan jiwa pun kembali kayuh jalur setapak ke masa 6 tahun yang lalu itu.

Pergi liputan ke Banten dan sekitarnya, hingga masuk ke kawasan bermukimnya suku Baduy Dalam bersama Ade Pepe, adalah tugas luar kota saya yang pertama di Trans TV. Ada kegairahan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada juga kekhawatiran akan mampu atau tidaknya melakukan tugas dengan baik. Meski ada cemas, banyak pula adrenalin bermain di situ, menumpahkan jutaan watt tenaganya hingga lelah seringkali tak terasa. Padahal, waktu itu bulan puasa. Tak makan dan tak minum seakan tak jadi soal. Gairah liputan dan menjelajahi daerah baru melebihi segalanya. Apalagi, Ade Pepe benar-benar teman liputan yang baik. Tak macam-macam, dan tidak usil. Profesional kalau soal pekerjaan meski tetap masih bisa bercanda. Tawa-tawa kami pun akhirnya selalu lepas, tak dibebani apapun juga.

Pagi ini, saya lihat lagi paket tayangan ini, lengkap dengan pemunculan tampang muda saya, lewat kepingan VCD. Nama programnya Jelajah Ramadhan. Pernah tayang di Trans TV, namun saya lupa waktu persis tayangnya. Di paket itu, saya dengar kembali suara saya yang kebetulan juga jadi narator. Saya lihat juga tampang muda saya, yang masih kurus kemana-mana. 

Lucu! Tuhan memang selalu punya caraNya sendiri dalam membuat gurauan, yang menggelitik umatNya. Sama seperti yang saya rasakan pagi ini, hingga saya bisa mendapati banyak sekali hal yang sudah saya lakukan, termasuk banyak hal yang belum saya lakukan hanya dalam satu kilasan putaran mata lensa VCD itu. 

Bukan semata mengingat nama Desa Cigumendeng, tapi lebih dari itu. Penghargaan atas hidup yang sebenarnya tak pernah tak indah. Patut mengundang sujud syukur di setiap masa.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help