Ojek sepeda terus melaju. Tak peduli panas, apalagi Busway. Para pengayuh pedal sepeda itu seakan tak pernah mau menyerah. Jakarta adalah juga kotaku, pikir mereka. Jakarta pulalah yang harus menghidupiku.

Berbekal sepeda ontel tua, mereka menemani Jakarta yang juga sudah tua. Mereka sadar bahwa banyak sekali ruang dan celah untuk mereka bergerak. Tak mungkin Busway lewat di gang sempit dan mengantar warga Jakarta sampai ke depan rumah. Disitulah kami bisa, ujar mereka.

Belakangan, keberadaan ojek sepeda malah menjadi titik unik Jakarta. Pemerintah Pusat pernah punya gerakan hemat BBM, mengurangi atau berhenti sama sekali menggunakan mobil pribadi untuk pergi kerja atau sekolah. Pemerintah Daerah DKI terus menanggapi program itu. Salah satu programnya adalah memulai gerakan Bike to Work, menggunakan sepeda untuk pergi kerja dan begitu pula pulangnya. Mungkin masih panjang perjalanannya, tapi gerakan ini terus digalakkan, meski tetap menyisakan satu kelemahan; udara Jakarta tak enak untuk dihirup di sepanjang perjalanan saat mengayuh sepeda.

Apa kemudian mungkin mengurangi jumlah kendaraan bermotor di Jakarta, termasuk motor-motor yang sudah semakin menyamuk itu?

Jika tak mungkin melarang seseorang membeli motor untuk kebutuhan pribadi mereka, apa kemudian mungkin mengganti ojek-ojek motor yang ada di Jakarta dengan ojek sepeda?

Ramah lingkungan, lho.


bahtiar wrote on May 9, '07
:)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help