Kuakui, aku kalah langkah.
Meski paham sekali bahwa aku tak mungkin mengambil langkah itu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Hati tak mungkin berlari menjauh. Hati terlanjur terpasang pada titik terindah dari dirimu. Pada titik ternyaman kita berdua.
Mungkin kamu menuai kata selayak noda. Sehingga kau ucap semburan perpisahan itu dalam kerut-kerut yang ringan. Enteng, tanpa beban. Terlintas sudah tuduhan-tuduhan miring dari jiwa yang terlibas. Aku menyempatkan mampir pada pemikiran bahwa bagimu semuanya tinggal hari saja, saat hendak mengakhiri. Ketika hendak pergi dan henti menoleh.
Hari-hari itu telah terhitung. Dengan seksama. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tentu saja, tidak ada kekhilafan. Ini adalah keputusan sepihak yang tentu tidak pernah menyisakan kekhilafan. Siapapun sungguhlah sulit meneguhkan pandang pada gerakan asmara sekawanan burung di langit ketika berada di gerbang keangkuhan. Andaipun menyesal, tetap saja tak terakui sebagai kekhilafan. Hanya kegilaan sesaat. Sesuatu untuk mengulas kembali masa kecil yang liar, dengan jutaan dispensasi.
Cinta adalah kegilaan sesaat. Begitulah pula mungkin arti bagi pemutusan ikatan cinta, bagimu. Kelanjutannya. Pematokan makna dangkal cinta yang memang hanya menyapu kulit kita untuk beberapa belaian saja. Tak bisa meminta lebih, apalagi selamanya. Jika cinta meledak seperti gunung berapi dan lantas mereda, maka kini kau telah meredakannya untukku.
Hari-hari telah menjadi patung. Terdiam tanpa nyawa. Apa kamu pernah menyaksikan patung berjalan, dan lantas menyapa? Itulah hari-hariku. Setelah kamu pergi.
Kutunggu saja nanti sebuah misteri lagi. Dari Tuhan, atau alam. Lewat caranya lagi yang enggan kumengerti dengan benar, dan singkat. Atau begitu saja. Selalu saja harus dengan pemikiran, meski belum tentu betul. Lama-lama malas. Lama-lama menunggu saja. Lama-lama menerima semua sebagai anugrah. Menerima juga sebagai sebuah bencana, ketika amarah terpicu. Seperti kubilang bahwa ingin kukatakan menyesal telah mengenalmu, tapi apa lacur, aku hanya bisa terdiam karena aku terlintas bimbang. Apakah anugrah atau bencana, hadirmu di meja-meja sajianku itu?
Kemana pergi kata-kata mesra dari bibir indahmu? Hanyut sajakah ke lintasan-lintasan aliran sukma hingga keruh sampai muara? Aku tak merindukan kata-kata itu. Sungguh. Membayangkannya saja sudah tidak ingin lagi.
Kata-kata puitis toh tak akan pernah mati. Kata-kata tetap berpijak pada buminya yang selalu saja tua. Lagipula, kata-kata mesra tak selamanya harus puitis. Seperti kata-katamu. Petak-petak lingkaran maknanya tak pernah tampak karena sengaja kau hilangkan. Dengan pintar. Dan yang hadir diantara sela-sela bibirmu itu justru pengagungan sukmaku.
Ah, kata-kata mesra!! Yang universal. Sederhana menyentuh hati, mampu tergadai seluruh perasaan. Belai-belai sendu asmara. Bersyukurlah para penyair dengan liarnya kata-kata. Warisan tak ternilai. Sahabat kata-kata. Mampu menyihir dirinya sendiri dengan kata-kata mesra. Bukan kebutuhan, memang, kata-kata itu. Aku telah menancapkan dalam pikir bahwa aku tidak membuai diri dengan kata-kata. Ketika sepi menggelora, iringi kamu pergi, aku lantas berdiam diri dan melanjutkan nafas-nafas itu, tetap dengan surga.
Kamu boleh saja pergi.
Sepi juga boleh kamu tinggalkan di pundakku. Boleh kamu titipkan di kedip-kedip waktu.
Tapi surga akan tetap jadi milikku. Tak peduli seberapa besar peranmu dulu ketika menjabat surga untukku. Kamu hanya pernah. Tidak lagi sebagai.