<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>dhank Ari</title>
<link>http://dhankari.multiply.com/</link>
<description>cinta membuatku sibuk.&#x3C;BR&#x3E;&#x3C;BR&#x3E;kesibukan yang membuatku tetap hidup&#x3C;BR&#x3E;dan bernyawa sembilan&#x3C;BR&#x3E;&#x3C;BR&#x3E;20 juli 2004</description>
<pubDate>Fri, 4 Jul 2008 23:53:12 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Wed, 2 Jul 2008 13:49:24 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>dhank Ari</title>
<url>http://images.dhankari.multiply.com/logo</url>
<link>http://dhankari.multiply.com</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>

<item>
<title>Jurnal: Penganten Sunat</title>
<description>Ada khitanan massal di kawasan Kayu Mas, Jakarta. Banyak ekspresi tertangkap di situ. Ekspresi yang membawa ingatan jauh ke</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/69/Jurnal_Penganten_Sunat</guid>
<pubDate>Wed, 2 Jul 2008 13:49:24 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>g a l e r i   f o t o : Alur Tengah Keseharianku</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/68/g_a_l_e_r_i_f_o_t_o_Alur_Tengah_Keseharianku</guid>
<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 13:17:00 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>g a l e r i   f o t o : Ekspresi Jujur (ku)</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/67/g_a_l_e_r_i_f_o_t_o_Ekspresi_Jujur_ku</guid>
<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 13:15:48 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>g a l e r i   f o t o : Uang Itu Memang Berputar</title>
<description>Uang terus berputar. Dimanapun dan kapanpun. Pada siapapun, dari siapapun.</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/66/g_a_l_e_r_i_f_o_t_o_Uang_Itu_Memang_Berputar</guid>
<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 08:35:57 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Jalan Mundur</title>
<description>Tadi siang, diantara jarum 12 dan 1 di jam tangan, ada pemandangan yang membawa saya jauh ke masa kecil. Dalam hal kenangan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ada seorang anak SD yang sedang berjalan mundur. Wajahnya gembira. Penuh keyakinan pula. Sampai akhirnya matanya bertemu dengan mata saya. Dia sempat tersenyum kecil kemudian berbalik dan berjalan dengan normal kembali. Seperti malu. Seperti seseorang yang ketahuan telah berbuat yang tidak dikehendaki. Seperti tertangkap basah. Ketahuan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Saya pernah melakukan hal yang dia lakukan tadi. Bahkan sering. Saat usia saya tak jauh dengannya, sekitar 7 sampai 9 tahun, saya sering berjalan mundur hampir kemanapun. Pergi ke sekolah. Ke warung untuk beli Chiki, ke rumah tetangga, bahkan di dalam rumah sendiri saat hendak ke kamar kecil dari ruang tengah, atau kemanapun juga ke seisi rumah.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Yang saya ingat saat itu adalah saya merasa bosan dengan pemandangan yang saya lihat saat berjalan maju ke depan, layaknya orang berjalan pada umumnya. Seringkali saya penasaran, seperti apa...</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/79/Jalan_Mundur</guid>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 13:12:34 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Prolog tulisanku berikutnya (insya Allah)</title>
<description>PROLOG&#x3C;br style=&#x22;text-decoration: underline; font-weight: bold; &#x22;&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;text-decoration: underline; font-weight: bold; &#x22;&#x3E;Kebohongan sudah seperti kanker dalam tubuhku. Merambat terus tak tertahankan. Tak ada yang bisa menghentikannya kecuali kematian. Stadiumnya sudah akut. Tak ada obatnya lagi. Cinta sekalipun bahkan tak bisa menyembuhkannya. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kalaupun ada, mungkin hanya iman yang bisa memberikan jalan. Permasalahannya, siapa yang akan menuntunku pada iman? Lagipula, apa aku percaya pada iman? Terutama setelah seluruh pelarianku atasnya? Setelah seluruh makianku yang tanpa rasa malu itu.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Aku seorang penjahat? Bisa saja ya. Namun aku cenderung membela diri dengan mengatakan bahwa aku bukanlah seorang penjahat. Aku hanya terkena penyakit namun sulit menyembuhkan diri. Kebohongan adalah satu-satunya yang aku paham benar. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Bahkan dalam seluruh cerita yang akan aku ceritakan nanti di seluruh sisa buku ini. Yakinlah bahwa semuanya hanyalah kebohongan belaka. Dan tetaplah pada sebuah pemikiran bahwa besar kemungkinan bukan aku yang menuliskan cerita ini.&#x26;nbsp;  &#x3C;br style=&#x22;text-decoration: underline; font-weight: bold; &#x22;&#x3E;</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/78/Prolog_tulisanku_berikutnya_insya_Allah</guid>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 09:15:59 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Puisi-puisi baru</title>
<description>&#x3C;p&#x3E;Setelah lama tak mengisi blog ini, ada keinginan untuk meramaikannya kembali. Sila dilihat beberapa puisi baru saya di sini.&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://kutorehkata.blogspot.com&#x22;&#x3E;http://kutorehkata.blogspot.com&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;thanks...&#x3C;/p&#x3E;</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/77/Puisi-puisi_baru</guid>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 05:14:27 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Bersama Figur Publik</title>
<description>Saya beruntung bisa menghela nafas dalam radius yang dekat dengan radius hela nafas mereka. Dari obrolan dan pertemuan yang terkadang singkat, saya mendapat banyak dari mereka. Semoga mereka akan menjadi teman selamanya.</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/65/Bersama_Figur_Publik</guid>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 14:17:12 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Bersama Seorang Teman</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/64/Bersama_Seorang_Teman</guid>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 14:12:14 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Bersama Sekelompok Teman Baru</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/63/Bersama_Sekelompok_Teman_Baru</guid>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 14:04:54 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Kontemplasi : Kemewahan</title>
<description>Ada beberapa kemewahan yang hilang dalam diri saya ketika saya mulai pergi dan pulang kantor di temani B 1111 OX. Baik di balik kemudi, maupun duduk santai di samping istri yang sibuk memelototi jalan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kemewahan itu adalah menonton jalan dengan santai sambil memainkan banyak skenario di dalam kepala. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kemewahan itu adalah menunggu angkutan umum di pinggir jalan, sambil mengajak ngobrol perasaan yang seringkali tidak menentu, entah karena kesal bis tak kunjung datang atau karena cuaca yang tidak bersahabat. Mengajak kompromi dengan perasaan dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kemewahan itu adalah kesempatan berbagi satu ruang kecil dalam angkutan umum dengan banyak orang berbeda setiap harinya. Tidak saya sangka, saya dulu sangat beruntung karena bisa berkenalan dengan mereka semua, meski tak sempat mengetahui lebih banyak daripada sekedar tampakan nyata mereka yang munculkan kesan di mata batin saya. Tak ada nama-nama yang aku dapat, apalagi tempat dimana mereka tinggal ata...</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/76/Kontemplasi_Kemewahan</guid>
<pubDate>Thu, 8 May 2008 12:50:54 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Baca Tulisku</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/62/Baca_Tulisku</guid>
<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 11:39:32 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Jurnal : Satu hari di Den Haag</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/61/Jurnal_Satu_hari_di_Den_Haag</guid>
<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 03:05:28 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Cerita kecil: Tentang Topi</title>
<description>Saya adalah peminat topi. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Sudah puluhan bahkan ratusan topi saya pakai, sejak kecil sampai sekarang. Tentu, tak semuanya saya beli, atau orang tua saya beli. Apalagi saya bukan lelaki yang selalu bergelimang harta berlebih hingga mampu membeli benda penghias dan berstatus sebagai kebutuhan tersier itu. Kalaupun ada topi yang saya beli dengan harga yang tinggi, karena saking senangnya seperti cinta, maka pernah saya terpaksa tak makan dengan lauk yang pantas di warung Bang Udin, warung langganan di dekat rumah kontrakan ABAH semasa saya kuliah.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Saya menyenangi kepala ini berteman dengan topi. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pernah topi berlabel &#x22;Bayern Muenchen&#x22;, lengkap dengan logo khasnya tertinggal di bis ekonomi Bandung-Jakarta karena saya tertidur hingga terminal dan saya lupa pada topi yang sengaja saya sangkutkan di pegangan pinggir kursi itu saat saya mulai tertidur. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pernah pula saya dipertanyakan kewarasan oleh teman-teman kuliah saat saya memakai kopiah ke Kampus. Saat kuliah selama beberapa hari. Dan bukan p...</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/75/Cerita_kecil_Tentang_Topi</guid>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 14:06:51 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Jurnal : Kera Teluk Bayur, Sumatra Barat</title>
<description>Seusai sholat Dzuhur di pinggir Teluk Bayur, kera-kera ini begitu banyak mengobral ekspresi. Jadi tidak tahan untuk menjadikan mereka model, meski mereka tak mengenakan busana terbaru keluaran para desainer kondang. Mereka berfoto bugil sambil memakan</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/60/Jurnal_Kera_Teluk_Bayur_Sumatra_Barat</guid>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 00:25:34 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Jurnal : Pasar Poncowinatan di bawah jam 8 pagi</title>
<description>Oleh-oleh ekspresi anak manusia dari perjalanan singkat di Jawa Tengah dan Jogja. Pasar ini tak jauh dari Tugu dan Malioboro. Pasar ini begitu menuai banyak ekspresi. Beberapa orang diantaranya bahkan mengajak saya berbincang dalam bahasa Jawa. Ah, maaf, saya tak melafalkan bahasa Jawa. Dan obrolan pun berlanjut dalam bahasa Indonesia. Ada satu diskusi dengan penjual berjilbab hijau yang namanya saya lupa (maaf), yang ada dalam salah satu foto, mengenai kamera digital. Dia rupanya juga hobi memotret dan bersyukur sekali dengan teknologi kamera digital yang memungkinkan dia memotret banyak tanpa harus bermodal banyak. Silahkan</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/59/Jurnal_Pasar_Poncowinatan_di_bawah_jam_8_pagi</guid>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 05:34:00 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>nt</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Tidak ada yang menyuruhmu menjabarkan arti dari kata yang paling absurd itu di depanku. Kau saja yang terlalu ingin menemukan kemujuran dari ungkapan paling rahasia itu.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x3C;EM&#x3E;-----sebuah lontaran tanpa kontrol-----&#x3C;/EM&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/74/nt</guid>
<pubDate>Mon, 7 Apr 2008 06:33:22 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Langit</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Seorang kawan di lantai 5 kerap menyebut bakal anaknya &#x22;Langit&#x22;. Mungkin dia nanti akan membagi alasan kenapa julukan atau nama itu keluar. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Saya, selalu punya ikatan dengan langit. Dimanapun dan kapanpun. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Bukan. Saya bukan Superman yang jika patah hati langsung terbang ke langit dan menangis di sana sambil melihat bumi dari ketinggian ratusan ribu kaki. (mungkin membayangkan Lois Lane lagi ngapain di bawah sana). Saya juga bukan pilot pesawat terbang yang mungkin tiap hari harus bertegur sapa dengan langit. Saya adalah saya, lelaki daratan yang kerap merindukan langit. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Saya selalu punya ikatan dengan langit. Dalam situasi apapun dan dalam kesempatan apapun.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Selalu ada rindu untuk keluar dari pikuk ruangan kerja yang kubikal, meski sekedar untuk menyaksikan bis-bis tanggung metromini meraung-raung dan menjajal jalanan dengan sembrono. Selalu ada keinginan menemani turunnya matahari dalam situasi apapun, terutama saat senja itu melukis langit dengan indah. Selalu dan selalu. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Dulu sek...</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/73/Langit</guid>
<pubDate>Mon, 7 Apr 2008 04:47:33 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Suatu senja di Nuamolo</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/56/Suatu_senja_di_Nuamolo</guid>
<pubDate>Fri, 4 Apr 2008 12:37:00 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Ilmu</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Ada sebuah ilmu yang belum saya bisa pelajari dengan baik hingga hari ini. Ilmu itu adalah ilmu menguasai diri sendiri dan ilmu memahami orang lain.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E;</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/72/Ilmu</guid>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 13:24:07 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Katanya - PMR</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/music/item/3/Katanya_-_PMR</guid>
<pubDate>Wed, 9 Jan 2008 13:55:46 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Manusia Gengsi</title>
<description>&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;trebuchet ms&#x22; size=3&#x3E;Beberapa diantara kita masih diperbudak oleh gengsi. Tak pakai celana model terkenal, &#x3C;EM&#x3E;tak keren&#x3C;/EM&#x3E;.&#x26;nbsp;Tak nenteng handphone multifungsi dan terbaru, &#x3C;EM&#x3E;tak cool&#x3C;/EM&#x3E;. Bahkan tak nonton Jazz, &#x3C;EM&#x3E;tak&#x26;nbsp;PD gaul&#x3C;/EM&#x3E;.&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;trebuchet ms&#x22; size=3&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;trebuchet ms&#x22; size=3&#x3E;Kenapa sih harus memaksakan diri memakai celana dalam Pierre Cardin yang harga per bijinya bisa 50 ribu perak, kalau isi dompet memang baru mampu membeli paket celana dalam isi tiga seharga 20 ribu? Toh, tak ada yang benar-benar melihat celana dalam kita, kecuali.....&#x3C;EM&#x3E;ah, tak&#x26;nbsp;usahlah diomongkan&#x3C;/EM&#x3E;. Malu. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Trebuchet MS&#x22; size=3&#x3E;Kenapa banyak energi dan uang yang terhambur tanpa guna hanya demi gengsi yang tak bisa dikejar? &#x3C;EM&#x3E;Gengsi cenderung terus&#x26;nbsp;mendaki dan tak mau disaingi. &#x3C;/EM&#x3E;Sekali kita menempatkan diri sebagai budak gengsi, maka tiket perburuan menuju puncak gengsi akan terus menjajah kita. Dan tiket itu tak mudah, juga tak murah. Sudah banyak yang akhirnya menyerah meski hati belum puas; &#x3C;EM&#x3E;sisa hidupnya&#x26;nbsp;menjadi neraka dan mereka pun tersudut di pojokan rasa malu yang luar biasa&#x3C;/EM&#x3E;.&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Trebuchet MS&#x22; size=3&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x26;...</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/71/Manusia_Gengsi</guid>
<pubDate>Fri, 4 Jan 2008 00:02:23 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Cerita Kecil : Ubay</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;&#x3C;A href=&#x22;http://dhankari.multiply.com/photos/hi-res/upload/R3sStgoKCCoAACVrlMI1&#x22;&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;&#x3C;A href=&#x22;http://dhankari.multiply.com/photos/hi-res/upload/R3sStgoKCCoAACVrlMI1&#x22;&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;&#x3C;A href=&#x22;http://dhankari.multiply.com/photos/hi-res/upload/R3sStgoKCCoAACVrlMI1&#x22;&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;&#x3C;A href=&#x22;http://dhankari.multiply.com/photos/hi-res/upload/R3sStgoKCCoAACVrlMI1&#x22;&#x3E;&#x3C;IMG class=alignleft src=&#x22;http://images.dhankari.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R3sStgoKCCoAACVrlMI1/Ubay%201.JPG?et=Pk21pgjxLVLUIUadYD7Y5g&#x26;amp;nmid=&#x22; border=0&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;Nama aslinya Muhammad Aris Subadillah. Tapi, nama itu tak akrab di telinga teman-temannya. Mereka biasa memanggil dia&#x26;nbsp;Ubay; &#x3C;EM&#x3E;entah darimana asalnya&#x3C;/EM&#x3E;. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Jadi begitulah. Dia pun kerap dipanggil Ubay dan mulai terbiasa dengan panggilan itu. Nama itu pulalah yang muncul dari mulutnya saat saya menanyakan namanya. Ubay. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Pertama kali saya melihatnya, langsung ada daya tarik luar biasa; daya tarik untuk mengajaknya bicara setelah pelajaran selesai. &#x3C;A href=&#x22;http://dhankari.multiply.com/photos/hi-res/upload/R3sStgoKCCoAACVrlMI1&#x22;&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Waktu itu, saya sedang sibuk dibalik lensa. Jepret sana, jepret sini; mencari objek foto yang menarik. Sampai tibalah saya di sebuah ruang kelas darurat &#x3C;A href=&#x22;http://dhankari.multiply.com/photos/hi-res/upload/R3sS5woKCCoAACp7xaE1&#x22;&#x3E;&#x3C;IMG class=alignright src=&#x22;http://images.dhankari.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R3sS5woKCCoAACp7xaE1/Ubay%207.JPG?et=QY8J5kc4nMx11oWrII5AFw&#x26;amp;nmid=&#x22; border=0&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;&#x3C;A href=&#x22;http://dhankari.multiply.com/photos/hi-res/upload/R3sStgoKCCoAACVrlMI1&#x22;&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;dengan segala macam kekurangan itu; salah satu ruang darurat di Sekolah Darurat Kartini (pimpinan Ibu Kembar Bu Rosie dan Bu Rian) yang&#x26;nbsp;hanya ditutupi kain terpal biru dengan meja dan kursi yang sudah nyaris roboh. Tak ada dinding permanen di situ, hanya lempengan-lempengan triplek dan kayu seadanya.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Di ruangan itu&#x26;nbsp;saya lihat ada satu orang anak yang demikian serius belajar. Dialah Ub...</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/70/Cerita_Kecil_Ubay</guid>
<pubDate>Wed, 2 Jan 2008 04:32:07 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Tulisan Akhir Tahun</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Kalau ada satu kereta yang bisa membawa kita ke masa lalu, mungkin akan panjang antrian loketnya. Akan banyak yang berebut mendapatkan tiket itu, meski harganya mungkin selangit; mahal sekali. Tiketnya, tiket&#x26;nbsp;pulang pergi, tentunya. Karena jarang sekali ada orang yang mau hidup di masa lalu. Kebanyakan orang &#x3C;STRONG&#x3E;&#x3C;EM&#x3E;hanya ingin memperbaiki &#x3C;/EM&#x3E;&#x3C;/STRONG&#x3E;masa lalu, tapi tak bermaksud untuk tinggal selamanya di masa lalu. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Tapi, saya banyak mengunjungi stasiun kereta dan tak ada satupun yang mempunyai jurusan &#x3C;STRONG&#x3E;&#x3C;EM&#x3E;Masa Lalu&#x3C;/EM&#x3E;&#x3C;/STRONG&#x3E;. Aneh. Kenapa orang harus berpikir untuk kembali ke masa lalu dan memperbaikinya jika tak ada jalur penghubung menuju masa lalu? Bukankah setiap keinginan selalu memiliki titik perwujudannya, yang sangat tergantung dari kerja keras dan kemauan si pemilik keinginan? Sama dengan ungkapan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, dan tergantung dari usaha keras umat manusia untuk mencari obat-obat itu?&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kini banyak orang yang berpikir untuk pergi ke Masa Lalu, lantas punya keingin...</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/journal/item/69/Tulisan_Akhir_Tahun</guid>
<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 06:51:19 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Aksi Lapangan (tidak) Hijau</title>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/55/Aksi_Lapangan_tidak_Hijau</guid>
<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 14:44:52 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Jurnalistik Pernikahan</title>
<description>Akad nikah Amanda dan Marc. Pendekatan fotografinya: foto</description>
<guid isPermaLink="true">http://dhankari.multiply.com/photos/album/54/Jurnalistik_Pernikahan</guid>
<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 07:42:02 -0000</pubDate>
</item>

</channel>
</rss>